Pembentukan Pengurus Alumni Ex SMEA 1 / SMK 2 Padang

11059_104784062866479_100000046573241_125229_1407745_n11059_104784066199812_100000046573241_125230_1240827_nRencana pembentukan Ikatan Alumni ex. SMEA 1 Padang / SMKN  2 Padang, yang akan dilaksanakan dalam bulan Nopember s.d Desember 2oo9 merupakan suatu hal yang positif bagi para alumni. Sdr. Syamsul Bahri Putra Samudara selaku creator dari pembentukan ikatan alumni ini menetapkan basis sementara Ikatan di Klinik Mitra Sandona, Jln. Dr. Sutomo Marapalam Padang, depan abang motor.

Tujuan dari pembentukan  ikatan alumni ini adalah untuk membentuk tali silahturahmi antar alumni untuk seluruh angkatan yang bersifat solidaritas, sosial antar alumni, gotong royong , serta kekompakan sesama alumni , dan direncanakan akan dibuat sebuah program jangka panjang, yang mana program ini ditujukan untuk seluruh alumni tanpa terkecuali baik yang sudah berhasil maupun belum berhasil , dalam artian pengurus akan membuat data para alumni untuk semua angkatan, oleh karena itu dalam ikatan ini akan tercipta sebuah komunitas yang kuat saling bantu membantu satu sama lain nya baik secara materil maupun moril. Oleh karena itu mari kita dukung dan memberikan persetujuan pembentukan Ikatan Alumni ini

http://www.facebook.com/event.php?eid=169736515731&ref=mf

Persetujuan Pembentukan Pengurus Alumni Ex SMEA 1 / SMK 2 Padang

untitled

turtles can fly

247692_thumbRugi rasanya apabila kita sebut diri sendiri sebagai seorang penggila film “begitu saya menyebutnya-red) apabila belum mononton film TURLES CAN FLY. Film TURTLES CAN FLY merupakan film pertama tentang perang di Iraq masa Invasi Amerika dibawah Presiden George W. Bush. dalam film ‘Turtles Can Fly’ menyajikan pengajaran kehidupan secara folosofis tanpa ada kesan menggurui penontonnya. Nah ini yang jarang sekali saya dapat dari film nasional kita, apalagi sinetron.

‘Turtles Can Fly’ menyajikan paradoks : film anak-anak yang penuh humor, manisnya adegan jenaka anak-anak, sekaligus film perang yang paling mengerikan.
Dalam film ini memang tidak ada adegan hunjaman peluru menembus batok kepala, seperti pada film Saving Private Ryan, atau semburan darah, potongan tubuh seperti di film Kingdom of Heaven, atau adegan sadisme yang lazim dalam film-film perang dengan tekhnologi mutakhir. Sebaliknya ‘Turtles Can Fly’ adalah sebuah film sederhana, namun secara psikologis ini memberikan dampak psikologis yang paling dalam. Meski Badan sensor film memberikan label genre ‘Parental Guide’, namun film ini bukan film anak-anak, melainkan seharusnya film dewasa.

‘Turtles Can Fly’ menyajikan peperangan yang sedemikian kuatnya berdampak pada ‘innocent victims of conflict’. Ya, peperangan paling banyak menyengsarakan korban tak berdosa, terutama anak-anak. Dan secara sempurna film ini menyajikan akibat perang ‘dimata anak-anak’. Sehingga saat kita menonton, secara tidak sadar kita akan digiring oleh sang sutradara ‘berpikir dan berlogika secara anak-anak pula’. Inilah keistimewaan yang dimiliki film-film Iran yang sudah menjadi satu ciri khas, seperti dalam film Children of Heaven, Baran, Kandahar,dll.

turtlescanaltDimulai dengan adegan gadis kecil menjatuhkan diri dari sebuah tebing yang curam, film ini bercerita dengan latar belakang sebuah desa ‘Iraqi Kurdistan’ di perbatasan Iran dan Turkey. Penduduk desa yang dalam suasana perang lebih mementingkan berita ketimbang sajian hiburan di TV. Untuk itulah semua penduduk desa berusaha memasang antena yang paling kuat menangkap gelombang siaran berita di televisi.
Dengan set tahun 2003 dibawah invasi Amerika, film ini menggambarkan terobsesinya orang-orang dengan berita Internasional yang didapat dari Satelit untuk mendapatkan informasi rencana Amerika kedepan dalam ‘menyelamatkan’ Iraq.

sssssSeorang anak laki-laki berumur 13 tahun atau tepatnya ‘de-facto leader’ bagi sekumpulan anak-anak yatim-piatu di camp pengungsi, ia dipanggil dengan nama ‘Satellite’ karena terbiasa menerima job pemasangan antena TV, sekaligus menjadi ‘translater berita’ bagi penduduk desa disana. Kemudian Satellite juga menerima job pembersihan ‘ranjau darat’ di daerah itu. Satellite merasa terganggu dengan kehadiran seorang anak laki-laki cacat, kedua tangannya putus, yang juga menerima job pembersihan ranjau yang belum menjadi ‘anggota serikat pekerja anak-anak’ dibawah pimpinan Satellite. Anak cacat itu bernama Henkov yang juga adalah korban ranjau darat, sehingga kedua tangannya putus. Meski cacat Henkov rupanya ahli sekali menjinakkan ranjau.

Dilain pihak Satellite naksir berat dengan adik perempuan Henkov, Agrin yang misterius dan cantik. Kemudian Satellite juga menemukan kemampuan prophetic Henkov, yang kemudian disadarinya bahwa kemampuan supranaturalnya lebih akurat ketimbang propagandanya CNN.

Henkov dimata orang lain mempunyai 2 orang adik, yang perempuan Agrin dan adik laki-laki yang buta, masih berumur 1tahun lebih, Rega. Kemanapun, mereka selalu bertiga. Dan si kecil Rega selalu dalam gendongan Agrin, sesekali digendong oleh Henkov yang meski ‘tanpa tangan’ namun cukup cekatan menggendong si kecil.

ddffdfdfAgrin gadis kecil mungkin umurnya baru 12tahun, yang terjebak oleh ganasnya perang, kedua orang tuanya terbunuh akibat perang saudara di Iraq, dalam saat yang bersamaan ia mengalami tragedi yang lain, diperkosa beramai-ramai oleh tentara, sehingga pada usia yang sangat muda ia mempunyai anak. Oleh pengungsi lain anak dalam gendongannya itu dikira adiknya. Kehidupan serba sulit, mengungsi dengan anak dan saudara laki-laki yang cacat. Sudah berkali-kali Agrin mencoba bunuh diri karena tidak mampu menahan beban berat hidup. Namun setiap kali dia ingat kakaknya Henkov yang cacat, ia berpikir mampukah Henkov merawat rega anaknya? Dan ia mengurungkan niat itu. Adegan ketiga ‘anak kecil’ itu kerap memancing rasa haru.

Kabar baik dari pasukan ‘hero’ itu tidak ada dampaknya ibu-muda Agrin, ia tetap tertekan, terlebih ketika ia memikirkan bagaimana nanti Rega tumbuh menjadi besar, apa pandangan orang terhadapnya. Berkali-kali Agrin mengemukakan rencananya agar meninggalkan Rega, dengan harapan bisa ‘diambil/dipelihara orang lain’, namun Henkov kakaknya selalu melarang, karena Henkov sangat mengasihi anak itu.

acepAgrin yang kehilangan masa kanak-kanak, Agrin yang memerlukan bimbingan orang-tua, ia tak mampu membereskan beban dan masalah hidupnya. Sengsara hidupnya membuyarkan semua ‘natur baik’ yang mungkin dimilikinya. Ia menjadi pembenci anaknya itu, ia pemurung, dan putus asa. Suasana kontradiksi, disaat masyarakat Kurdi memulai lembar baru dan menyambut jatuhnya Saddam, dengan suka-ria mendapatkan souvenir potongan patung-Saddam di ibukota yang dijatuhkan tentara Amerika. Agrin membunuh anaknya dan kemudian ia bunuh-diri. Adegan ini menyentak sekali, membuat para penonton tidak tahan dengan tragedi kematian keduanya yang ditampilkan. Akhir kisah itu sungguh mendendangkan nyanyian yang paling memilukan dan menyayat hati.

Bhaman Ghobadi’s Turtles Can Fly, cukup menggambarkan kejadian sejarah secara instant yang merupakan one ‘of the best films ever made about children in wartime’.

imagesfgfgfg7865865868958856356564556665555352656858865875787856568686sdfgfg3535

laporan keuangan (neraca & laba rugi) di mata manajemen

11Berbeda dengan analisis teknikal yang mengandalkan grafik harga dan volume, analisis fundamental sangat berngantung pada laporan keuangan yaitu neraca, laproan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan, sebagai dasar pengambilan keputusannya. Dimata analis fundamental, laporan keuangan bersama dnegan analasisi ekonomi dan analisis industri, hukumnya wajib. Buku-buku investasi pun mengajarkan hal yang sama bahkan ada yang menuliskan kalau harga saham dua pertiganya ditentukan laporan keuangan, tepatnya expected profit.

1. Neraca

Neraca adalah posisi keuangan sebuah perusahaan yang mengangambarkan kondisi harta, utang, dan modal pada tanggal tertentu. Neraca umumnya disajikan dalam bentuk aktiva-pasiva. Disi kiri, akan terlihat semua aset yang ada di perusahaan. Berbeda dengan pamahaman awam, akuntansi tidak mensyaratkan kepemilikan. Aset, menurutu akuntansi, adalah sumber daya ekonomi yang dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas pada masa datang. Walaupun kepemilikan sebuah aset masih di tangan lessor, jika sebuah perusahaan mempunyai hak dan kendali untuk menggunakan aset itu selama masa ekonomisnya, perusahaan tersebut harusmengakuit asetiut sebagai sumber daya ekonominya bersama denganutang jangka panjang yang ditimbulkannya.

Sebaliknya, untuk sebuah aset yang masih bernilai buku tinggi dan sudah 100% dimiliki sekalipun, apabila mesin tesebut sudah tidak dapat menghasilkan pendapatan atau arus kas lagi kedepannya, harus diturunkan atau dihapuskan nilainya di neraca dan diakui biayanya (impairment) di laporan laba rugi. Selain itu, jika dulu aset tetap harus dilaporkan pada nilai bukunya setiap periode, mulai tahun ini perusahaan boleh menggunakan metode revaluasi. Untuk metode nilai buku, masih ada masalah biaya penyusutan. Sesuai dengan prinsip akuntansi matching cost againts revenue, perusahaan perlu mengalokasikan biaya aktiva tetap yang besar dalam beberapa periode manfaatnya.

Untuk itu, manajemen akan menentukan nilai sisa, masa manfaat, dan metode penyusutannya. Nilai buku aset yang dilaporkan di neraca bergantung pada penentuan variabel-variabel di atas, apakah sebuah aset,misalnya kapal terbang, bermasa manfaat delapan atau duabelas tahun dengan nilai sisa 10% atau 25% dan dengan metode penyusutan garis lurus atau saldo menurun ganda, misalnya, ditentukan oleh manajemen.

Aset lancar pun tidak semuanya bebas dari estimasi dan pertimbangan subjektif manajemen. Persediaan harus dilaporkan pada nilai yang lebih rendah antara harga pokok dan pasar, sesuai dengan prinsip konservatisme. Harga pokok sendiri dapat didasarkan pada FIFO (first in, first out), rata-rata atau LIFO (last in, first out).

Adapun piutang dagang dilaporkan pada nilai realisasi bersih yaitu total piutang dikurangi penyisihan piutang tak tertagih. Perhitungan besar penyisihan juga diskresi karena ada metode penyisihan berdasarkan penjualan bersih dan berdasarkan skedul umur piutang dengan persentase yang ditentukan manajemen.

Belum lagi pelaporan nvestasi dalam surat berharga. Akuntansi menyediakan empat kategori untuk ini yaitu sekuritas yang diperdagangkan, tersedia untuk dijual, dipegang hingga jatuh tempo, dan investasi jangka panjang. Metodenya pun ada tiga yaitu biaya amortisir, nilai pasar, dan ekuitas. Intinya banyak angka dalam neraca adalah estimasi, diskresi atau kebijakan manajemen, bukan angka yang tepat atau pasti benar. Dari mana aset perusahaan itu berasal dapat dilihat disisi kanannya. Dalam semua keadaan, pasti ada yang membiayai aset-aset itu, sesuai dengan persamaan akuntansi bahwa aset sama dengan utang plus modal (A=H+M). Jika yang mendanai pemilik disebut modal dan jika sumber dananya dari pihak ketiga dinamai utang. Urutan disisi kredit ini juga menunjukkan urutan pengembalian saat perusahaan dilikuidasi yaitu utang lancar, kemudian utang jangka panjang, dan terakhir modal.

2. Laporan laba rugi

Terkait dengan adanya diskresi manajemen dan kebijakan perusahaan untuk beberapa akun di neraca, laporan laba rugi pun sama. Penentuan biaya penyisihan piutang tak tertagih, biaya penyusutan, biaya amortisasi aktiva tak berwujud ada ditangan manajemen. Inilah kelemahan accrual basis. Laporan laba rugi disusun ke bawah dengan metode multiple step sehingga perusahaan mempunyai banyak istilah biaya dan laba. Ada harga pokok penjualan, biaya adm & umum, biaya/pendapatan lain-lain, dan pos luar biasa.

Konsep laba pun mengenal laba kotor, laba operasi, laba sebelum bunga dan pajak, laba sebelum pajak, dan laba bersih. Investor biasanya sangat berkepentingan dnegan bottom line yaitu laba bersih atau tepatnya laba per saham (EPS). Laba bersih dan eps akan meningkat adalah sinyal positif akan bagusnya fundamental perusahaan dan sering menjadi pemicu kenaikan harga saham saat kondisi normal. Namun investor yang cerdas mestinya mencari tahu sumber kenaikan itu.

Laba berkualitas tinggi jika dihasilkan dari penjualan atau operasi perusahaan karena akan berulang. Laba berkualitas rendah jika berasal dari pendapatan lain-lain seperti pendapatan bunga atau keuntungan penjualan aktiva tetap, apalagi jika disebabkan oleh pos luar biasa seperti keuntungan rekstruktirsasi utang, karena sangat mungkin tidak akan terjadi lagi.

Menyadari adanya kelemahan yang melekat pada laporan laba rugi berdasarkan accrual basis diatas, mulai 1990 standar akuntansi pun mensyaratkan perlunya laporan keuangan yang ketiga yaitu laporan arus kas.

source : Bisnis Indonesia, Edisi Minggu tanggal 14 Juni 2009, penulis Budi Frensidy, staf pengajar FEUI dan penulis buku matematika keuangan, disajikan dalam blogs ini hanya sebagai informasi umum tanpa maksud apapun, padang 16 Juni 2009.

Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan I – 2009

Terus memburuknya perekonomian global semakin dirasakan dampaknya pada
perekonomian domestik selama triwulan I-2009. Hal tersebut mengakibatkan perekonomian
Indonesia diperkirakan tumbuh lebih lambat dari perkiraan. Perlambatan tersebut selain
disebabkan oleh kinerja ekspor yang turun, juga dikarenakan mulai melemahnya daya beli
masyarakat. Meski demikian, berlangsungnya aktivitas ekonomi selama dilakukannya pesta
demokrasi dalam rangka Pemilihan Umum, diperkirakan mampu menahan lebih jauh
perlambatan ekonomi domestik. Ke depan, pada tahun 2009 perekonomian masih dihadapkan
pada ketidakpastian pemulihan ekonomi global sehingga perekonomian Indonesia diperkirakan
tumbuh lebih rendah dari yang diperkirakan pada awal tahun sebesar 4,0-5,0%. Dengan
mempertimbangkan perkembangan dan prospek perekonomian tersebut, pada April 2009,
Bank Indonesia kembali menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 7,5%. Penurunan BI Rate
ini adalah kali kelima sejak Desember 2008. Secara akumulatif (Des 08-April 09), BI Rate telah
turun sebesar 175 bps.
Selama triwulan I-2009, pertumbuhan ekonomi diprakirakan sebesar 4,6%. Dari sisi
pengeluaran, seluruh komponen pertumbuhan mengalami perlambatan terutama ekspor.
Namun demikian, aktivitas ekonomi selama berlangsungnya pesta demokrasi yang ditandai
oleh kampanye partai politik dan pelaksanaan pemilu di seluruh Indonesia, diperkirakan dapat
mencegah perlambatan konsumsi masyarakat yang lebih dalam. Di sisi sektoral, sektor-sektor
yang diperkirakan mengalami perlambatan tajam adalah sektor industri dan pertambangan.
Sementara itu sektor-sektor yang non-tradable seperti pengangkutan dan komunikasi serta
sektor listrik, gas dan air bersih masih akan tumbuh tinggi dengan tren yang melambat. Apabila
dilihat secara regional, anjloknya ekspor sangat berpengaruh terhadap perlambatan ekonomi
di beberapa daerah, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Kecenderungan penurunan tekanan inflasi terus berlanjut. Tekanan inflasi selama triwulan
I-2009 masih cenderung menurun mencapai 0,36% (secara triwulanan, qtq) atau 7,92% (secara

imagesTerus memburuknya perekonomian global semakin dirasakan dampaknya pada perekonomian domestik selama triwulan I-2009. Hal tersebut mengakibatkan perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh lebih lambat dari perkiraan. Perlambatan tersebut selain disebabkan oleh kinerja ekspor yang turun, juga dikarenakan mulai melemahnya daya beli masyarakat. Meski demikian, berlangsungnya aktivitas ekonomi selama dilakukannya pesta demokrasi dalam rangka Pemilihan Umum, diperkirakan mampu menahan lebih jauh perlambatan ekonomi domestik. Ke depan, pada tahun 2009 perekonomian masih dihadapkan pada ketidakpastian pemulihan ekonomi global sehingga perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh lebih rendah dari yang diperkirakan pada awal tahun sebesar 4,0-5,0%. Dengan mempertimbangkan perkembangan dan prospek perekonomian tersebut, pada April 2009, Bank Indonesia kembali menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 7,5%. Penurunan BI Rate ini adalah kali kelima sejak Desember 2008. Secara akumulatif (Des 08-April 09), BI Rate telah turun sebesar 175 bps.

Selama triwulan I-2009, pertumbuhan ekonomi diprakirakan sebesar 4,6%. Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen pertumbuhan mengalami perlambatan terutama ekspor. Namun demikian, aktivitas ekonomi selama berlangsungnya pesta demokrasi yang ditandai oleh kampanye partai politik dan pelaksanaan pemilu di seluruh Indonesia, diperkirakan dapat mencegah perlambatan konsumsi masyarakat yang lebih dalam. Di sisi sektoral, sektor-sektor yang diperkirakan mengalami perlambatan tajam adalah sektor industri dan pertambangan.

Sementara itu sektor-sektor yang non-tradable seperti pengangkutan dan komunikasi serta sektor listrik, gas dan air bersih masih akan tumbuh tinggi dengan tren yang melambat. Apabila dilihat secara regional, anjloknya ekspor sangat berpengaruh terhadap perlambatan ekonomi di beberapa daerah, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kecenderungan penurunan tekanan inflasi terus berlanjut. Tekanan inflasi selama triwulan I-2009 masih cenderung menurun mencapai 0,36% (secara triwulanan, qtq) atau 7,92% (secara tahunan, yoy).

Penurunan tekanan inflasi tersebut terutama disebabkan oleh masih berlanjutnya dampak langsung dan tidak langsung dari penurunan BBM. Selain itu membaiknya ekspektasi inflasi serta melemahnya permintaan domestik juga menjadi penyumbang dari rendahnya tekanan inflasi. Sementara itu, tekanan dari harga-harga barang yang dikendalikan pemerintah (administered prices) dan harga makanan bergejolak (volatile food) juga masih rendah terkait dengan terjaganya produksi pangan domestik. Di sisi eksternal, Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan I-2009 diperkirakan mencatat surplus sebesar 3,5 miliar dolar AS. Volume ekspor beberapa komoditas unggulan seperti minyak sawit, tembaga, dan kertas, tetap menunjukkan kinerja yang positif. Adapun beberapa komoditas seperti batu bara dan produk kimia mengalami penurunan seiring dengan melemahnya permintaan global. Sementara itu, impor tercatat mengalami penurunan baik impor bahan baku maupun bahan modal untuk industri di dalam negeri, seiring dengan melemahnya permintaan domestik. Sementara itu, di neraca finansial, penerbitan global bond oleh pemerintah telah menyebabkan neraca finansial mencatat surplus. Dengan kondisi tersebut, posisi cadangan devisa pada triwulan I-2009 diperkirakan menjadi 54,8 miliar dolar AS atau setara dengan 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah.

Di pasar keuangan, tekanan terhadap pasar keuangan dirasakan masih terus berlangsung walaupun membaik di akhir triwulan. Tekanan tersebut terkait dengan kinerja perusahaanperusahaan yang belum membaik, dan masih tingginya persepsi risiko para pemilik modal. Namun, di penghujung triwulan I-2009, muncul sentimen positif di pasar keuangan sehubungan dengan bertambahnya cadangan devisa terkait dengan penerbitan global bond Pemerintah RI, peningkatan jumlah Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan Pemerintah Jepang, dan penandatanganan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan Bank Sentral China.  Di tengah kondisi perekonomian global yang kian memburuk, serta seiring dengan melemahnya tekanan inflasi, Bank Indonesia tetap mengarahkan perhatian pada upaya menjaga pertumbuhan ekonomi dan menghindari terjadinya penurunan daya beli masyarakat yang semakin dalam. Berbagai kebijakan moneter Bank Indonesia ditempuh dalam rangka mendukung bangkitnya sektor riil, khususnya UMKM, guna mendukung pertumbuhan ekonomi negeri.

Selain melakukan pelonggaran kebijakan moneter, paket suplemen kebijakan Bank Indonesia lainnya yang dapat dilakukan adalah mempercepat penyaluran kredit perbankan dan menurunkan risiko kredit. Beberapa paket tambahan dilakukan oleh Bank Indonesia berupa early restructuring perbankan, meminta adanya penjaminan Pemerintah terhadap kredit untuk proyek-proyek strategis seperti air minum, listrik, perumahan, serta infrastruktur jalan dan jembatan, yang pembangunannya dibiayai oleh APBN, serta memfasilitasi pertemuan perbankan dengan sektor-sektor yang berpotensi mendorong peningkatan intermediasi perbankan. Upaya memfokuskan kegiatan usaha bank ke UMKM dan linkage program antara bank umum dan bank perkreditan rakyat (BPR), atau lembaga keuangan mikro, seperti koperasi dan baitul maal wa tamwil (BMT), terus dilakukan dengan gencar. Hal tersebut diharapkan dapat mendukung kehidupan masyarakat dan mencegah terjadinya perlambatan lebih dalam pada perekonomian.

Ke depan, perekonomian Indonesia tahun 2009 akan sangat dipengaruhi oleh dinamika perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 diperkirakan berada lebih rendah dari perkiraan awal tahun sebesar 4,0-5,0%. Meski demikian, Bank Indonesia memperkirakan bahwa pertumbuhan harga komoditas intenasional saat ini telah mencapai titik terendah sehingga terdapat tanda-tanda pembalikan yang dapat mendorong perbaikan harga-harga, dan pada gilirannya mendukung pertumbuhan ekspor. Di sisi lain, semakin melambatnya perekonomian dunia, dan menurunnya permintaan agregat, terus mendorong turunnya tekanan inflasi. Ke depan, pada tahun 2009, dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan terus melambat, tren inflasi diperkirakan akan berada pada batas bawah kisaran 5% – 7%. Di sisi perbankan, industri perbankan dalam negeri diprakirakan akan mengalami dampak dari krisis keuangan global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Namun secara umum, perbankan nasional masih tetap memiliki daya tahan yang cukup baik, yang tercermin dari indikator utama perbankan CAR dan NPL. Rasio kecukupan modal (CAR) masih tetap tinggi yakni 17,7%. Kondisi likuiditas perbankan juga mengalami peningkatan sejalan dengan tingginya peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 19,8%. Namun, tren perlambatan pertumbuhan kredit masih berlangsung terkait dengan sikap kehati-hatian perbankan dalam kondisi ketidakpastian terhadap prospek ekonomi.

Dengan mempertimbangkan berbagai perkembangan tersebut di atas, Dewan Gubernur Bank Indonesia pada April 2009 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 7,50 %. Bank Indonesia akan senantiasa mengarahkan kebijakan moneter yang kondusif bagi permintaan domestik dengan tetap berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka menengah panjang. Secara operasional, ruang penurunan BI Rate ke depan masih terbuka jika prospek inflasi tetap mengarah pada sasaran inflasi jangka menengah. Di bidang perbankan, Bank Indonesia akan terus berupaya untuk melanjutkan langkah dalam mewujudkan perbankan yang sehat, kuat dan kompetitif. Di samping itu, upaya meningkatkan kehati-hatian industri perbankan dalam melewati krisis global senantiasa menjadi perhatian Bank Indonesia.

sumber : http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Jurnal+Ekonomi/bemp_0109.htm/tim penulis laporan bank indonesia (gambar dimodifikasi sendiri, isi tidak mengurangi dan merubah apapun dari sumber)


tukang black berry

blackberry-curve-21Selain topik pemilu dan perbincangan soal capres, ada satu “agenda nasional” nonpolitik yang juga cukup mengemuka di Tanah air saat ini. Ia bahkan menjadi tren, apalagi kalau bukan BlackBerry yang kini populer disebut BB. Cobal pergi ke pusat-pusat penjualan telepon seluler, kehadiran gerai dealer BB tampil beda dibandingkan dengan lainnya. Kursi yang disediakan untuk calon pembeli pun tidak pernah kosong. Alhasil, staf penjualan terlihat selalu sibuk memperlihatkan contoh-contoh tipe produk telepon selluler yang juga dipakai oleh Presiden AS Barack Obama.

Kata orang, setelah “FB (facebook), lahirlah BB (Black Berry). Klop deh dan kemudian lahir lagi BBBBBB berikutnya. Bukankah dengan telepon secanggih BB membuat pemakaiannya bisa dengan leluasa  ber-facebook ria. Tak pelak lagi, BB sebagai merek dunia, namun tidak banyak yang mengetahui siapa pembuatnya. Tidak seperti nokian, eriksson, motorola, lg, samsung dan lainnya, BB tidak sekaligus mewakili nama pabrikannya.

Bila kondisi dibalik, akan terdengar aneh sekali bila ada telepon seluler bernama Research in Motion (RIM). Namun itulah perusahaan pembuat BB yang berbasis di Kanada. Kesuksesan BB tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan sang komandannya sekaligus pendiri, Mike Lazaridis yang menamatkan pendidikant tingkat atas di Toronto. Semasa remaja, sang CEO ini memang dikenal gemar mengutak-atik apa saja yang dianggapanya bermasalah. Lantaran itu pula oleh teman-temannya. Lazaridisi dijuluki “tukang” (Mr.Fix-It) karena hobinya memperbaiki segala sesuatu. Namun dari kebiasaaan dan talenta yang luar biasa sang pendiri, BB bisa mendunia seperti sekarang. Ada sebuah prinsip yang mendorong Lazaridis untuk senantiasa meningkatkan kualitas dirinya agar bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Itu tampaknya belum cukup, tepatnya dia membanguan sebuah reputasi atau pengakuan, yaitu sebagai tukang atau orang yang bisa mengatasi masalah.

Suatu ketika di high school-nya, Lazaridis mengikuti sebuah kontes untuk memenangi  beasiswa. Dia bersama timnya membuat bel listrik berbentuk kotak. Saat teman-temannya mulai stress menghadapi kerumitan membuat bel, bos BB tersebut justru tenang-tenang saja. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, bel listrik itu pun selesai ditangannya. Bosan dengan model perdana, Lazaridis yang masih remaja penasaran untuk membuat produk anyar. Ternyata produk berikutnya jauh lebih memuaskan. Tidak disangka, sejumlah sekolah memesan bel listrik buatan Lazaridis. Uang dari hasil penjualannya digunakan untuk membiayai perkuliahan tahun pertama di Universitas Waterloo. Jiwa wirausaha pria yang tidak terlalu suka tampil formal ini terus terasah. Dua bulan sebelum lulus kuliah, dia menjawab tantangan raksasa otomotif saat itu, General Motors (GM) untuk mengembangkan sistem jaringan pengawas komputer. Mereka menawarkan kontrak senilai Us$500.000. Merasa mampu memberikan sebuah solusi kepada GM, Lazaridis meminta izin rektor agar diberi kelonggaran waktu kuliah.

Awalnya dia tetap memintanya menyelesaikan dulu kuliah. Namun ketika saya menjelaskan soal kontrak tersebut, dia berharap bisa sukses. Bertahun-tahun kumudian, rektor duduk di beberapa dewan direksi bersamanya, termasuk di RIM. Tidak disebutkan siapa rektor tersebut tetapi yang jelas jejak langkah bisnis Lazaridis terlihat semakin mantap sejak menyelesaikan high schoolnya. Dia tidak memungkinkan bahwa kontrak dengan GM merupakan tonggak sejarah yang mengubah perjalanan hidupnya. Apa yang dimulai dari RIM adalah bermodalkan dari kontrak GM.

Oleh karena itu, bila ada orang yang bertanya apa rahasia sukses Lazaridis bersama RIM, hal itu terletak pada lima prinsip dasar, yakni :

1. Jangan takut melakukan hal-hal yang tidak biasa.

2. Berpikirlah jauh ke depan dan wujudkann impian itu.

3. Perhitungkan risiko yang smart, bukan yang lain.

4. Lakukan satu hal dengan hasil prima (RIM fokus pada black berry)

(sourcer : Insight ; edisi minggu “Bisnis Indonesia”)

Bisnis Indonesia “Banking Efficiency Award 2009″

awardBecermin pada krisis global, banyak perusahaan-perusahaan khususnya perbankan untuk senantias selalu melakukan kebijakan dalam menekan biaya. Mungkin sebagian kita menyebutnya sebagai efisiensi terhadap pengeluaran.  Tidak hanya itu, perbankan yang berhasil melakukan langkah efisiensi juga diberikan penghargaan berupa Banking Efficiency Award. Acara yang diselenggarakandi Grand Ballromm Hotel Mulia Jakarta pada tanggal 23 April 2009 dihadiri hampir 400 peserta yang sebagian besar adalah praktisi keuangan, bankir, hingga para akademis. Acara ini juga dihadiri oleh Profesor Edward I. Altman pakar keuangan New York University yang juga memberikan presentasi tentang kondisi pasar kredit global. Berikut para pemenang Bisnis Indonesia Banking Efficiency Award 2009 :

1. BUMN : (PT.Bank BRI, PT. Bank Mandiri, PT. Bank BNI)

2. BPD : (PT. BPD Jawa Barat, Bank BPD Jambi, PT. BPD Sumatera Barat, PT. Bank DKI)

3. Syariah : (PT. Bank Syariah Bukopin, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank Muamalat Indonesia)

4. Bank Asing : (Deutsche Bank AG.

5. Bank Campuran : (PT. Bank UOB Indonesia, PT. ANZ Panin Bank, PT. Bank Woori Indonesia)

6. Bank dengan aset > 50 t : (PT. Bank Danamon Indonesia, PT. Bank Permata, PT. Bank CIMB Niaga)

7. Bank dengan aset antara 10-50t : (PT. Bank BTPN)

8. Bank dengan aset antaran 1-5t : (PT. Bank Sinarmas)

9. Bank dengan aset antara 1-5t : (PT. Bank Jasa Jakarta, PT. Bank Swadesi)

KIK EBA, produk teranyar yang baru lahir

oyfaozbu8b1

Krisis keuangan global membuat tahun 2009 ini tidak diwarnai optimisme setinggi tahun-tahun sebelumnya. Namun, kondisi ini tak menyurutkan semangat pelaku pasar modal Indonesia dalam mengembangkan produk-produk baru. Awal Februari lalu, instrumen kontrak investasi kolektif-efek beragunan aset (KIK EBA) yang lama dinantikan akhirnya diluncurkan. Produk gres pertama ini bernama Efek Beragun Aset Danareksa SMF I-KPR BTN (DSMF01) yang diluncurkan bersama oleh PT. Danareksa investmenet Management (DIM), PT. BRI, PT. BTN dan PT. Sarana Multigriya Financial (SMF) yang bertindak sebagai global koordinator dan pembeli siaga. KIK EBA ini dapat diperdagangkan melalui PT. BEI sejak tanggal 12 Februari 2009.

Itu Artinya, KSEI sebagai lembaga Penyimpanan dan penyelesaian mulai menjalankan fungsinya untuk menyimpan an melakukan penyelesaian transaksi DSMF01 sejak periode efek tersebut tercatat dan diperdagangkan di bursa. Sebagai landasan hukum penyelenggaraan layanan jasa tersebut, KSEI telah menyiapkan perangkat hukum yaitu Peraturan Jasa Kustodian SEntral yang tertuang dalam Keputusan Direksi KSEI Nomor Kep-022/DIR/KSEI/1208 tanggal 1 Desember 2008.

Menurut Gurinaldi Akhyar, Kepada Divisi Jasa Kustodian Sentral KSEI, pencatatan DSMF01 menambah jenis efek baru yang ada disistem penyimpanan KSEI. Produk ini menarik, karena karakternya berbeda dengan efek lainnya. Efek ini juga mendapat dukungan penuh Bapepam-LK dan SRO untuk persiapan penerbitannya, dan menunggu kesiapan berbgai pihdak yang terlibat dalam penerbitan instrumen ini. Efek baru ini disimpan dalam kelompok aset KIK EBA. Penyelesaian transaksi produk ini juga tak berbeda dengan efek lainnya. Setiap Pemegang Rekening KSEI bisa mentransaksikan instrumen ini melalui pemindahbukuan.

Portofolio DSMF01 terdiri atas Efek Portofolio Kredit Pemilikan Rumah (KPR) PT. BTN yang terdiri dari atas tagihan KPR milik 5.060 debitur BTN. Jumlah emisi efek ini pada saat diluncurkan di pasar perdana bernilai Rp. 100 miliar.

Investor yang membeli KIK EBA DSMF01, baik dipasar perdana maupun di pasar sekunder akan menjadi EBA holder yang memiliki hak atas pokok tagihan dan bunga sebesar 13% per thaun yang dibayar setiap kuartal, EBA holder akan memiliki EBA hingga saat jatuh temponya, sesuai yang tertera dalam prospektus.

Efek ini dijamin dengan kumpululan KPR berkualtias dari BTN. Tidak seperti mortgage back securities yang terjadi di Amerika Serikat, kumpulan tagihan ini sudah melewati 32 kriteria seleksi sehingga digolongkan ke dalam KPR prime mortgage. Secara keseluruhan ada 32 kriteria yang digunakan untuk melakukan seleksi, diantaranya yang terpenting adalah setiap KPR didukung dokumentasi hukum yang memadai, umur KPR minimum 18 bulan, tidak pernah ada lebih dari 30 hari, nasabah KPR berumur tidak lebih dari 55 sampai dengan jatuh tempo KPR serta setiap KPR dilindungi asuransi jiwa dan kebakaran.

Kondisi ini yang membedakannya dengan sekuritisasi sub-prime mortgage yang terjadi di Amerika. KIK EBA yang dikelola DIM sebagai Manajer Investasi dan BRI sebagai Bank Kustodian ini mendapat peringkat triple A dari Moody’s Indonesia, dan akan jatuh tempo pada 10 Maret 2018. Sebagai Manajer Investasi, DIM bertindak sebagai pengatur kontrak investasi. Sebagai institusi yang dibentuk pemerintah untuk menangani perumahan, SMF bertindak sebagai stanby buyer, koordinator global dan pendukung kredit. SMF menjamin tersedianya dana pembayaran pokok dan bunga KIK EBA selama 3 (tiga)  bulan dan akan diisi kembali dalam escrow account di Bank Kustodian apabila jumlahnya berkurang.

Dengan beralihnya tagiah KPR BTN tersebut kepada KIK EBA, maka secara otomatis setiap bulan, BTN sebagai kreditur akan menyetor cicilan KPR yang ada dalam portofolio DSMF01 kepada Bank Kustodian, yang secara otomatis akan membayarkan setiap kuartal kepada KIK holder yang tertera di data KSEI.

KIK EBA ini juga merupakan salah satu alternatif instrument investasi baru yang aman. Sekarang anda yang menentukan.

tour d’singkarak 2009

Tour d’singkarak 2009, itulah tajuk yang akan dijadikan sebagai ajang balap sepeda inaternasional tiga etape sepanjang 456 km. Berkerjasama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sumatera Barat yang menyatakan siap untuk menyelenggarakan even balap sepeda tersebut. Tour d;singkarak akan menghadirkan sekitar 15 tim balap sepeda internasional dan sejumlah tim balap sepeda dalam negeri. Dimulai dari Kota Padang pada tanggal 29 April 2009 dan berakhir di pinggiran Danau Singkarak tanggal 3 mei 2009. Balap Sepeda ini juga didukung dengan berbagai iven, seperti fun bike 5000 sepeda unta di Kota Padang, festival rakyat, pesta makan-makan (atau bahasa kerennya kuliner), pacuan kuda di Kota Sawahlunto dan puncaknya akan menghadirkan konser musik  The Soul of Minangkabau Darmawan dengan STSI Padang Panjang.

Tour d’singkarak 2009 selain menyuguhkan iven balap sepeda juga akan akan menyuguhkan atraksi budaya yang tentunya akan sangat diminati banyak orang. Sebagaimana informasi yang diperoleh bahwa tour d’singkarak 2009 ini telah dipromosikan di luar negeri dan mendapatkan respon yang positif. Beberapa negera yang akan ambil bagian antara lain Jerman, Swiss, Belanda dan negara-negara asia tenggara lainnya.

Infrastruktur sebagai iven pendukung sudah dipersiapkan oleh panita berkejasama denga pemerintahan daerah di Sumatera Barat, kondisi jalan sepanjang 456 yang akan ditempuh dalam 3 etape selesai diperbaiki seklalian dengan marka jalannya dengan perkiraaan anggaran perbaikan mencapai 4 miliar. Marilah kita dukung semoga tour d’singkarak 2009 merupakan ajang pembuktian bahwa “Sumatera Barat Bisa”

 

 

Metode Akuntansi Kas Basis & Akrual Basis

1.    Pengertian Akuntansi

Akuntansi adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Akuntansi adalah seni dalam mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan.

Secara luas, akuntansi juga dikenal sebagai “bahasa bisnis”. Akuntansi bertujuan untuk menyiapkan suatu laporan keuangan yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham, kreditur, atau pemilik. Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal dengan istilah pembukuan. Akuntansi keuangan adalah suatu cabang dari akuntansi dimana informasi keuangan pada suatu bisnis dicatat, diklasifikasi, diringkas, diinterpretasikan, dan dikomunikasikan. Auditing, satu disiplin ilmu yang terkait tapi tetap terpisah dari akuntansi, adalah suatu proses dimana pemeriksa independen memeriksa laporan keuangan suatu organisasi untuk memberikan suatu pendapat atau opini – yang masuk akal tapi tak dijamin sepenuhnya – mengenai kewajaran dan kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi yang berterima umum.

2.    Siklus Akuntansi

 

Laporan keuangan yang akurat dapat dihasilkan hanya jika hasil kejadian dan aktivitas bisnis dicatat dengan baik. Kejadian-kejadian tertentu, yang dikenal dengan istilah transaksi, melibatkan pemindahan dan pertukaran barang atau jasa antara dua entitas atau lebih. Contoh transaksi bisnis antara lain pembelian barang dagang atau aktiva lain kepada pelanggan. Disamping transaksi, suatu kejadian juga dapat mempengaruhi aktiva, kewajiban, dan modal dari suatu usaha yang juga harus dicatat. Misalnya pengakuan atas penyusutan aktiva tetap, penurunan nilai pasar persediaan dan investasi, kerugian akibat banjir dan lain-lain.

1.    Konsep (Metode) Pencatatan Akuntansi

  1. Cash Basis

Acrual Basis merupakan salah satu konsep yang sangat penting dalam akuntansi, dimana Pencatatan basis kas adalah teknik pencatatan ketika transaksi terjadi dimana uang benar-benar diterima atau dikeluarkan. Dengan kata lain Akuntansi  Cash Basis adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar yang digunakan untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan.

Cash Basis akan mencatat kegiatan keuangan saat kas atau uang telah diterima misalkan perusahaan menjual produknya akan tetapi uang pembayaran belum diterima maka pencatatan pendapatan penjualan produk tersebut tidak dilakukan, jika kas telah diterima maka transaksi tersebut baru akan dicatat seperti halnya dengan “dasar akrual” hal ini berlaku untuk semua transaksi yang dilakukan, kedua teknik tersebut akan sangat berpengaruh terhadap laporan keuangan, jika menggunakan dasar akrual maka penjualan produk perusahaan yang dilakukan secara kredit akan menambah piutang dagang sehingga berpengaruh pada besarnya piutang dagang sebaliknya jika yang di pakai cash basis maka piutang dagang akan dilaporkan lebih rendah dari yang sebenarnya terjadi. Cash Basis juga mendasarkan konsepnya pada dua pilar yaitu :

1)   Pengakuan Pendapatan :

Pengakuan pendapatan, saat pengakuan pendapatan pada cash basis adalah pada saat perusahaan menerima pembayaran secara kas. Dalam konsep cash basis menjadi hal yang kurang penting mengenai kapan munculnya hak untuk menagih. Makanya dalam cash basis kemudian muncul adanya metode penghapusan piutang secara langsung dan tidak mengenal adanya estimasi piutang tak tertagih.

 

2)   Pengakuan Biaya :

Pengakuan biaya, pengakuan biaya dilakukan pada saat sudah dilakukan pembayaran secara kas. Sehingga dengan kata lain, pada saat sudah diterima pembayaran maka biaya sudah diakui pada saat itu juga. Untuk usaha-usaha tertentu masih lebih menggunakan cash basis ketimbang accrual basis, contoh : usaha relative kecil seperti toko, warung, mall (retail) dan praktek kaum spesialis seperti dokter, pedagang informal, panti pijat (malah ada yang pakai credit card-tapi ingat credit card dikategorikan juga sebagai cash basis).

Disamping itu, pencatatan akuntansi dengan metode cash basis juga mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan yaitu sebagai berikut :

1)   Keunggulan Pencatatan Akuntansi Secara Cash Basis

a)    Metode Cash basis digunakan untuk pencatatan pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan.

b)    Beban/biaya belum diakui sampai adanya pembayaran secara kas walaupun beban telah terjadi, sehingga tidak menyebabkan pengurangan dalam penghitungan pendapatan.

c)     Pendapatan diakui pada saat diterimanya kas,sehingga benar-benar mencerminkan posisi yang sebenanya.

d)    Penerimaan kas biasanya diakui sebagai pendapatan.

e)    Laporan Keuangan yang disajikan memperlihatkan posisi keuangan yang ada pada saat laporan tersebut.

f)      Tidak perlunya suatu perusahaan untuk membuat pencadangan untuk kas yang belum tertagih.

2)   Kelemahan Pencatatan Akuntansi Secara Cash Basis

a)    Metode Cash basis tidak mencerminkan besarnya kas yang tersedia.

b)    Akan dapat menurunkan perhitungan pendapatan bank, karena adanya pengakuan pendapatan sampai diterimanya uang kas.

c)     Adanya penghapusan piutang secara langsung dan tidak mengenal adanya estimasi piutang tak tertagih.

d)    Biasanya dipakai oleh perusahaan yang usahanya relative kecil seperti toko, warung, mall (retail) dan praktek kaum spesialis seperti dokter, pedagang informal, panti pijat (malah ada yang pakai credit card-tapi ingat credit card dikategorikan juga sebagai cash basis).

e)    Setiap pengeluaran kas diakui sebagai beban.

f)      Sulit dalam melakukan transaksi yang tertunda pembayarannya, karena pencatatan diakui pada saat kas masuk atau keluar.

g)    Sulit bagi manajemen untuk menentukan suatu kebijakan kedepannya karena selalu berpatokan kepada kas.

  1. Accrual Basis

Basis Akrual (Accrual Basis) Teknik basis akrual memiliki fitur pencatatan dimana transaksi sudah dapat dicatat karena transaksi tersebut memiliki implikasi uang masuk atau keluar di masa depan. Transaksi dicatat pada saat terjadinya walaupun uang belum benar – benar diterima atau dikeluarkan.

Dengan kata lain basis akrual digunakan untuk pengukuran aset, kewajiban dan ekuitas dana. Jadi Basis akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.

 

 

Cash Basis juga mendasarkan konsepnya pada dua pilar yaitu:

1)         Pengakuan pendapatan :

Saat pengakuan pendapatan pada accrual basis adalah pada saat perusahaan mempunyai hak untuk melakukan penagihan dari hasil kegiatan perusahaan. Dalam konsep accrual basis menjadi hal yang kurang penting mengenai kapan kas benar-benar diterima. Makanya dalam accrual basis kemudian muncul adanya estimasi piutang tak tertagih, sebab penghasilan sudah diakui padahal kas belum diterima.

2)         Pengakuan biaya :

Pengakuan biaya dilakukan pada saat kewajiban membayar sudah terjadi. Sehingga dengan kata lain, pada saat kewajiban membayar sudah terjadi, maka titik ini dapat dianggap sebagai starting point munculnya biaya meskipun biaya tersebut belum dibayar. Dalam era bisnis dewasa ini, perusahaan selalu dituntut untuk senantiasa menggunakan konsep accrual basis ini.

Disamping itu, pencatatan akuntansi dengan metode cash basis juga mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan yaitu sebagai berikut :

1) Keunggulan Pencatatan Akuntansi Secara Accrual Basis

a)    Metode aacrual basis digunakan untuk pengukuran aset, kewajiban dan ekuitas dana.

b)    Beban diakui saat terjadi transaksi, sehingga informasi yang diberikan lebih handal dan terpercaya.

c)     Pendapatan  diakui saat terjadi transaksi, sehingga informasi yang diberikan lebih handal dan terpecaya walaupun kas belum diterima.

d)    Banyak digunakan oleh perusahan-perusahana besar (sesuai dengan Ketentuan Standar Akuntansi Keuangan dimana mengharuskan suatu perusahaan untuk menggunakan basis akural).

e)    Piutang yang tidak tertagih tidak akan dihapus secara langsung tetapi akan dihitung kedalam estimasi piutang tak tertagih.

f)      Setiap penerimaan dan pembayaran akan dicatat kedalam masing-masing akun sesuai dengan transaksi yang terjadi.

g)    Adanya peningkatan pendapatan perusahaan karena kas yang belum diterima dapat diakui sebagai pendapatan.

h)    Laporan keuangan dapat dijadikan sebagai pedoman manajemen dalam menentukan kebijakan perusahaan kedepanya.

i)       Adanya pembentukan pencandangan untuk kas yang tidak tertagih, sehingga dapat mengurangi risiko kerugian.

2) KelemahanPencatatan Akuntansi Secara Accrual Basis

a)    Metode aacrual basis digunakan untuk pencatatan.

b)    Biaya yang belum dibayarkan secara kas, akan dicatat efektif sebagai biaya sehingga dapat mengurangi pendapatan perusahaan.

c)     Adanya resiko pendapatan yang tak tertagih sehingga dapat membuat mengurangi pendapatan perusahaan.

d)    Dengan adanya pembentukan cadangan akan dapat mengurangi pendapatan perusahaan.

e)    Perusahaan tidak mempunyai perkiraan yang tepat kapan kas yang belum dibayarkan oleh pihak lain dapat diterima.

Perkembangan Akuntansi Publik

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa kekayaan negara yang dikelola oleh pemerintah mencakup dana yang cukup besar jumlahnya. Pertanggungjawaban atas penggunaan dana untuk penyelenggaraan pemerintahan seharusnya didukung dengan suatu pengawasan yang cukup andal guna menjamin pendistribusian dana yang merata pada semua sektor publik sehingga efektivitas dan efisiensi penggunaan dana bisa dipertanggungjawabkan.

Hal ini tertuang dalam ketetapan Standar Audit – Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah (SA–SAFP) tahun 1996 oleh BPKP dengan keputusan Kepala BPKP No. Kep-378/K/1996. SA-APFP secara garis besar mengacu pada Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang berlaku di Indonesia. Penyelenggaraan auditing sektor publik atau pemerintahan tersebut dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembanguan (BPKP).

BPKP merupakan suatu badan yang dibentuk oleh lembaga eksekutif negara (presiden), yang bertugas untuk mengawasi dana untuk penyelenggaraan pembangunan negara yang dilakukan pemerintah dan bertangungg jawab atas tugasnya pada pemerintah juga.

Penyelenggaraan akuntansi pemerintahan yang bertumpu pada sistem Uang yang Harus Dipertanggungjawabkan (UYHD) berdasarkan SK Menteri Keuangan No. 217/KMK.03/1990 masih terlalu sederhana. Pemakaian uang yang digunakan dalam proses penyelenggaaraan pemerintahan mengacu pada APBN atau APBD dan pertanggungjawabannya hanya menyangkut pada berapa uang yang diterima dan berapa uang digunakan.

Jadi, ada suatu kecederungan bahwa penggunaaan dana bertumpu pada proses keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran uang saja.

Dalam melaksanakan audit di sektor publik (pemerintahan) perlu pembentukan suatu lembaga audit yang independen yang benar-benar mempunyai integritas yang bisa dipertanggungjawabkan kepada pihak publik. Oleh karenanya lembaga auditor tersebut setidaktidaknya bernaung di bawah lembaga legislatif negara ataupun merupakan lembaga profesional independen yang keberadaan mandiri, seperti akuntan publik. Peraturan yang dikembangkan dalam Standar Auditing Sektor Publik harus terbentuk oleh suatu lembaga ataupun badan yang

berdiri sendiri dan terlepas dari praktik pengauditan, sebagai contoh organisasi AAA (American Accountant Association) yang berada di Amerika.

  Akuntansi sektor publik – dari berbagai informasi diperoleh bahwa pemahaman sektor publik sering diartikan sebagai aturan pelengkap pemerintah yang mengakumulasi “utang sektor publik” dan “permintaan pinjaman sektor publik” untuk suatu tahun tertentu. Artikulasi ini dampak dari sudut pandang ekonomi dan politik yang selama ini mendominasi  perdebatan sektor publik. Dari sisi kebijakan publik, sektor publik dipahami sebagai tuntutan pajak, birokrasi yang berlebihan, pemerintahan yang besar dan nasionalisasi versus privatisasi. Terlihat jelas, dalam artian luas, sektor publik disebut bidang yang membicarakan metoda manajemen negara. Sedangkan dalam arti sempit, diartikan sebagai pembahasan pajak dan kebijakan perpajakan. Dari berbagai sebutan yang muncul, sektor publik dapat diartikan dari berbagai disiplin ilmu yang umumnya berbeda satu dengan yang lain.

Sejarah organisasi sektor publik sebenarnya sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam bukunya, Vernon Kam (1989) menjelaskan bahwa praktik akuntansi sektor publik sebenarnya telah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi.

Kemunculannya lebih dipengaruhi pada interaksi yang terjadi pada masyarakat dan kekuatan sosial didalam masyarakat. Kekuatan sosial masyarakat, yang umumnya berbentuk pemerintahan. Organisasi sektor publik ini, dapat diklasifikasikan dalam:

1. Semangat kapitalisasi (Capitalistic Spirit).

2. Peristiwa politik dan ekonomi (Economic and Politic Event).

3. Inovasi teknologi (Technology Inovation).

Pendekatan filosofi yang ada di sektor publik ialah customer approach, market concept, individualism and self reliance, purchaser/provider split, contarct culture, performace orientation, kompensasi dan kondisi yang fleksibel. Pilihan-pilihan akan filosofi tersebut akan menyebabkan perbedaan didalam kebijakan publik. Salah satu contoh adalah perubahan dari masa orde baru kepada masa reformasi saat ini, dari sentralisasi kepada desentralisasi, sosial ke mendekati pasar dan birokrasi ke lebih penghargaan konsumen.

Dari berbagai buku Anglo Amerika, akuntansi sektor publik diartikan sebagai mekanisme akuntansi swasta yang diberlakukan dalam praktik-praktik organisasi publik. Dari berbagai buku lama terbitan Eropa Barat, akuntansi sektor publik disebut akuntansi pemerintahan. Dan diberbagai kesempatan disebut juga sebagai akuntansi keuangan publik.

Berbagai perkembangan terakhir, sebagai dampak penerapan dari pada accrual base di Selandia Baru, pemahaman ini telah berubah. Akuntansi sektor publik didefinisikan sebagai akuntansi dana masyarakat. Akuntansi dana masyarakat dapat diartikan sebagai: ”mekanisme teknik dan analisis akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat”. Dari definisi diatas perlu diartikan dana masyarakat  sebagai dana yang dimiliki oleh masyarakat – bukan individual, yang biasanya dikelola oleh organisasi -organisasi sektor publik, dan juga pada proyek-proyek kerjasama sektor publik dan swasta. Di Indonesia, akuntansi sektor publik dapat didefinisikan: ”mekanisme teknik dan analisis akuntansi yang diterapkan pada pengelolaan dana masyarakat di lembaga-lembaga tinggi negara dan departemen-departemen dibawahnya, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, LSM dan yayasan sosial, maupun pada proyekproyek kerjasama sektor publik dan swasta”.

  Perkembangan akuntansi sektor publik di Indonesia – Penerapan Akuntansi Sektor Publik di Indonesia Salah satu bentuk penerapan teknik akuntansi sektor publik adalah di organisasi BUMN. Di tahun 1959 pemerintahan orde lama mulai melakukan kebijakan-kebijakan berupa nasionalisasi perusahaan asing yang ditransformasi menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Tetapi karena tidak dikelola oleh manajer profesional dan terlalu banyaknya ‘politisasi’ atau campur tangan pemerintah, mengakibatkan perusahaan tersebut hanya dijadikan ‘sapi perah’ oleh para birokrat. Sehingga sejarah kehadirannya tidak memperlihatkan hasil yang baik dan tidak menggembirakan.

 Kondisi ini terus berlangsung pada masa orde baru. Lebih bertolak belakang lagi pada saat dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1983 tentang fungsi dari BUMN. Dengan memperhatikan beberapa fungsi tersebut, konsekuensi yang harus ditanggung oleh BUMN sebagai perusahaan publik adalah menonjolkan keberadaannya sebagai agent of development daripada sebagai business entity. Terlepas dari itu semua, bahwa keberadaan praktik akuntansi sektor publik di Indonesia dengan status hukum yang jelas telah ada sejak beberapa tahun bergulir dari pemerintahan yang sah. Salah satunya adalah Perusahaan Umum Telekomunikasi (1989).

 

Deregulasi Akuntansi Sektor Publik Di Era Pra Reformasi - Krisis ekonomi dewasa ini telah membawa kita pada titik yang terburuk selama lebih dari 30 tahun. Dewasa ini kita menghadapi permasalahan yang bertumpuk-tumpuk. Ekonomi kita mengalami kontraksi yang besar dengan laju inflasi yang tinggi. Nilai tukar Rupiah jatuh, suku bunga tinggi.

 

 

Pengaruh kemarau yang berkepanjangan pada tahun 1997, berdampak negatif pada produksi bahan makanan, yang pada gilirannya kita harus mengimpor beberapa jenis bahan makanan dalam jumlah yang cukup besar. Kegiatan produksi tersendat-sendat dan ekspor hasil industri manufaktur menghadapi berbagai hambatan, antara lain, oleh karena kesulitan untuk mengimpor bahan baku dan suku cadang.

Sebabnya oleh karena hilangnya kepercayaan kepada perbankan nasional. Bank-bank dan perusahaan-perusahaan kita menghadapi masalah hutang yang berat baik di dalam maupun di luar negeri. Banyak industri telah mengurangi kegiatannya, bahkan ada yang telah menghentikannya. Oleh karena itu telah terjadi pemutusan hubungan kerja yang pada gilirannya telah menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran. Peningkatan jumlah pengangguran yang berlangsung bersamaan dengan meningkatnya laju inflasi telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan yang sangat besar.

Sementara itu kontraksi dalam kegiatan ekonomi dan anjloknya harga migas di satu pihak dihadapkan dengan upaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap penduduk berpendapatan rendah di lain pihak pada gilirannya telah menyebabkan meningkatnya defisit dalam APBN. Tingkat kepercayaan (confidence) masyarakat yang masih rendah, tercermin pada kurs Rupiah yang belum stabil, walaupun selama bulan Agustus 1998 terlihat adanya kecenderungan makin menguatnya Rupiah, berkonsekuensi terhadap peningkatan harga-harga serta terhambatnya kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri.

Sejalan dengan tuntutan reformasi dan demokratisasi di segala bidang, kebijakan pemerintah di bidang hubungan keuangan pusat daerah juga mengalami reformasi, dan secara bertahap akan terus disempurnakan sesuai dengan perkembangan zaman. Arah reformasi hubungan keuangan Pusat dan Daerah adalah untuk meningkatkan kinerja pengelolaan keuangan negara dan daerah serta meningkatkan akuntabilitas publik. Reformasi dimaksud meliputi pengaturan dana perimbangan, pajak dan retribusi daerah, pinjaman daerah, serta pengelolaan keuangan daerah.

Genderang reformasi telah ditabuh secara serentak oleh segenap lapisan masyarakat sejak tahun 1997. Kejatuhan maskapai penerbangan Orde Baru dari pucuk pimpinan Negara Kesatuan Republik Indonesia memberikan harapan besar untuk masyarakat Indonesia segera terbangunnya iklim berorganisasi yang sehat dengan berbasiskan “good governance” dalam rangka memakmurkan dan mensejahterahkan serta mencerdaskan Rakyat Indonesia. Dalam perjalanannya, reformasi dengan berbasiskan good governance untuk membangun Indonesia Baru ternyata banyak sekali kendala dan batasan-batasan yang kita miliki terutama berada dalam aspek hukum baik penciptaan hukum maupun penegakkan hukum itu sendiri.

Pada era reformasi, masyarakat di sebagian besar wilayah Indonesia, baik di propinsi, kota maupun kabupaten mulai membahas laporan pertanggungjawaban kepala daerah masing-masing dengan lebih seksama. Beberapa kali terjadi pernyataan ketidakpuasan atas kepemimpinan kepala daerah dalam melakukan manajemen pelayanan publik maupun penggunaan anggaran belanja daerah.

Melihat pengalaman di negara-negara maju, ternyata dalam pelaksanaannya, keingintahuan masyarakat tentang akuntabilitas pemerintahan tidak dapat dipenuhi hanya oleh informasi keuangan saja. Masyarakat ingin tahu lebih jauh apakah pemerintah yang dipilihnya telah beroperasi dengan ekonomis, efisien dan efektif.

Sesuai dengan literatur good governance, perangkat hukum dan penegakkan hukum adalah prasyarat terbangunnya suatu good governance. Dengan segala hambatan dan keterbatasan yang kita miliki, semangat untuk membangun Indonesia Baru dengan berbasiskan good governance masih terus hidup hampir di segenap organisasi apakah itu organisasi Pemerintah maupun organisasi non Pemerintah.

Dalam perspektif keuangan khususnya Institusi Pemerintah, reformasi sudah mulai dibangun dengan dikeluarkannya beberapa landasan hukum, pengenalan perangkat tehnologi untuk mempercepat proses organisasi, dan pengenalan serta kewajiban untuk menerapkan sistim organisasi dengan berbasiskan good governance kepada institusi Pemerintah. Perubahan total dalam proses dan struktur serta “content-isi” penganggaran pemerintah-APBN dan APBD serta Akuntansi merupakan 2 (dua) produk utama untuk membangun sistim organisasi yang berbasiskan good governance. Namun demikian, 2 (dua) produk reformasi keuangan ini akan tidak optimal jika tidak di imbangi oleh kesiapan sumber daya manusianya untuk menerima dan mengimplemen tasikan produk reformasi keuangan tersebut.

Disamping kesiapan dan kompetensi serta didukung oleh budaya organisasi yang kondusif, faktor kualitas pelaporan organisasi juga harus mampu di bangun untuk melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap sistim organisasi berbasiskan good governance. Dengan sistim pelaporan yang efektif maka pengelolaan sumber daya organisasi khususnya sumber daya ekonomi dapat dipertanggungjawabkan secara adil dan terbuka.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No.22 thn 1999 tentang Pemerintahan Daerah dimana dalam pasal 30 disebutkan bahwa “setiap daerah dipimpin oleh seorang kepala daerah sebagai kepala eksekutif yang dibantu oleh seorang wakil kepala daerah”. Selanjutnya dalam pasal 44 ayat 3 dinyatakan bahwa “kepala daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintahan daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala daerah Kabupaten dan Kepala daerah Kota, sekurang kurangnya sekali dalam setahun, atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden”.

Dari pernyataan Undang-Undang No.22 than 1999 dalam pasal 22 dan 44 diatas, secara tegas dapat dilihat bahwa Para Eksekutif Daerah diharuskan untuk membuat sebuah laporan yang memuat bagaimana mereka menyelenggarakan Pemerintahannya.

 Dengan kata lain para Eksekutif Daerah harus membuat sebuah laporan untuk mempertanggungjawabkan kinerjanya setiap tahun dalamhal penyelenggaraan Pemerintahan. Selanjutnya Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.105 tahun 2000 mengenai pertanggungjawaban keuangan daerah sebagai tindak lanjut atas telah dikeluarkannya Undang-undang No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan daerah.

Dalam pasal 37 Peraturan Pemerintah No.105 ini secara tegas disebutkan bahwa Kepala daerah harus mempertanggungjawabkan Keuangan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (selanjutnya disingkat DPRD). Untuk memaparkan secara jelas sehingga tidak terjadi kebingungan komunikasi antara Kepala Daerah dan DPRD maka laporan keuangan yang dimaksud dalam pertanggungjawaban adalah terdiri dari 4 (empat) laporan yaitu: Laporan Perhitungan APBD, Nota Perhitungan APBD, Laporan Aliran Kas, dan Neraca. Hal ini bisa dilihat dalam pasal 38 yang menyatakan bahwa “kepala daerah menyusun pertanggungjawaban keuangan daerah yang terdiri dari laporan perhitungan APBD, nota perhitungan APBD, laporan arus kas, dan neraca daerah”.

Selain 2 (dua) perangkat hukum diatas yang mengatur laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah; Kepala Daerah juga harus membuat suatu laporan untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan DAU – Dana Alokasi Umum dan DAK – Dana Alokasi Khusus termasuk pinjaman daerah kepada Pemerintah Pusat (lihat PP No.106 thn 2000 pasal 7 dan 12; dan PP No.11 thn 2001 pasal 2). enyadari akan keterbatasan sumber daya manusia yang ada di daerah maka Pemerintah Pusat dalam hal ini Departemen Dalam Negeri telah mengeluarkan Keputusan Pemerintah Dalam Negeri No.29 tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan APBD, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD.

Dengan segala keterbatasannya, KepMen No.29 thn 2002 ini merupakan bentuk kepedulian Pemerintah Pusat betapa penting laporan pertanggungjawaban keuangan Pemerintah Daerah segera di realisasikan melalui pemberian pedoman bagaimana sistim dan prosedur Akuntansi dan Keuangan Pemerintahan daerah bisa dibuat.

Seiring dengan telah dikeluarkannya berbagai perangkat hukum diatas, sebenarnya Ikatan Akuntan Indonesia telah memberikan respon yang elegan dengan membentuk kompartemen baru yaitu Kompartemen Akuntansi Sektor Publik. Melalui wadah kompartemen akuntansi sektor publik ini, perkembangan organisasi profesi sektor publik khususnya akuntansi sektor publik mulai menunjukkan titik terang.

Meskipun sedikit terlambat akibat begitu dinamisnya lingkungan maupun struktur organisasi profesi sektor publik, sebuah Draft Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (selanjutnya disingkat PSAP) telah dikeluarkan sebagaimana telah kita nantikan selama ini.

Negara Kesatuan Republik Indonesia telah melakukan sebuah Reformasi Akuntansi sebagaimana dapat dilihat dalam gambar dibawah ini, dimulai melalui Perangkat hukum yang jelas yang diikuti oleh sebuah Standar Akuntansi Pemerintah sebagai acuan dasar terbentuknya sebuah laporan keuangan yang memiliki prinsip-prinsip adil, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.

Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia pada tahun 2001 memunculkan jenis akuntabilitas baru, sesuai dengan UU Nomor 22 Tahun 1999 dan UU Nomor 25 Tahun 1999. Dalam hal ini terdapat tiga jenis pertanggungjawaban keuangan daerah yaitu (1) pertanggungjawaban pembiayaan pelaksanaan dekonsentrasi, (2) pertanggungjawaban pembiayaan pelaksanaan pembantuan, dan (3) pertanggungjawaban anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

Sementara di tingkat pemerintah pusat, pertanggungjawaban keuangan tetap dalam bentuk pertanggungjawaban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Saat ini di Indonesia sedang dilakukan persiapan penyusunan suatu standar akuntansi pemerintahan yang lebih baik serta pembicaraan yang intensif mengenai peran akuntan publik dalam memeriksa keuangan negara maupun keuangan daerah.

Namun tampak bahwa akuntabilitas pemerintahan di Indonesia masih berfokus pada sisi pengelolaan keuangan negara atau daerah.

Pembaharuan manajemen keuangan daerah di era otonomi daerah ini, ditandai dengan perubahan yang sangat mendasar, mulai dari sistem pengganggarannya, perbendaharaan sampai kepada pertanggungjawaban laporan keuangannya. Sebelum bergulirnya otonomi daerah, pertanggungjawaban laporan keuangan daerah yang harus disiapkan oleh Pemerintah Daerah hanya berupa Laporan Perhitungan Anggaran dan Nota Perhitungan dan sistem yang digunakan untuk menghasilkan laporan tersebut adalah MAKUDA (Manual Administrasi Keuangan Daerah) yang diberlakukan sejak tahun 1981.

Dengan bergulirnya otonomi daerah, laporan pertanggungjawaban keuangan yang harus dibuat oleh Kepala Daerah adalah berupa Laporan Perhitungan Anggaran, Nota Perhitungan, Laporan Arus Kas dan Neraca Daerah. Kewajiban untuk menyampaikan laporan keuangan daerah ini diberlakukan sejak 1 Januari 2001, tetapi hingga saat ini pemerintah daerah masih belum memiliki standar akuntansi pemerintahan yang menjadi acuan di dalam membangun sistem akuntansi keuangan daerahnya.

Kedua jenis laporan terakhir yaitu neraca daerah dan laporan arus kas tidak mungkin dapat dibuat tanpa didasarkan pada suatu standar akuntansi yang berterima umum di sektor pemerintahan. Standar akuntansi pemerintahan inilah yang selalu menjadi pertanyaan bagi pemerintah daerah, karena bagaimana mungkin suatu laporan neraca daerah dapat disusun tanpa didasarkan suatu standar akuntansi. Pertanyaan lain yang juga muncul adalah apakah standar akuntansi pemerintahan ini harus mengacu sepenuhnya kepada praktek-praktek akuntansi yang berlaku secara internasional ? Pemerintah Daerah masih banyak yang ragu dalam menerapkan suatu sistem akuntansi keuangan daerah karena ketiadaan standar, walaupun dalam penjelasan pasal 35 PP 105/2000 disebutkan bahwa sepanjang standar dimaksud belum ada, dapat digunakan standar yang berlaku saat ini. Lebih lanjut, dalam pasal-pasal lainnya disebutkan bahwa kewenangan untuk menyusun sistem dan prosedur akuntansi sepenuhnya merupakan kewenangan daerah, yaitu :

·        Pasal 14 ayat (1) menetapkan bahwa keputusan tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah diatur dengan Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

·        Pasal 14 ayat (3) menetapkan bahwa sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah diatur dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

Dari ketentuan tersebut di atas, seharusnya penerapan sistem dan prosedur akuntansi dalam rangka penyusunan laporan keuangan daerah dapat menggunakan standar akuntansi yang ada atau berlaku selama ini, tidak perlu harus menunggu standar akuntansi pemerintahan yang disusun oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan sesuai pasal 57 ayat (2) UU Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Kewajiban pemerintah daerah untuk menyusun neraca, laporan realisasi anggaran, laporan arus kas dan nota perhitungan merupakan kewajiban yang tidak bisa ditunda-tunda karena hal tersebut merupakan pertanggungjawaban kepala daerah kepada DPRD.

Tidak dipenuhinya kewajiban tersebut tentunya akan membawa konsekuensi penolakan oleh DPRD, yang akan menimbulkan dampak politis terhadap pemecatan Kepala Daerah karena dianggap telah melanggar ketentuan hokum yang ada.

Ketiadaan standar akuntansi pemerintahan , tidaklah berarti laporan keuangan pemerintah daerah tidak dapat disusun. Ketentuan yang ada mengharuskan kepala daerah menyampaikan pertanggungjawabkannya kepada DPRD dalam bentuk neraca, laporan arus kas, laporan perhitungan/realisasi anggaran dan nota perhitungan. Sejak awal tahun 2002, pemerintah daerah sudah membuat neraca awal daerah dengan mengacu kepada Pedoman SAKD hasil Tim Pokja SK Menkeu 355/2001 dan Kepmendagri 29/2002 dan ketentuan-ketentuan yang berlaku serta praktek-praktek internasional.

Hingga saat ini, pemerintah daerah yang telah memiliki neraca daerah sebanyak 169 Pemerintah Daerah berdasarkan hasil asistensi yang dilakukan oleh BPKP sebagai anggota Tim Pokja 355/2001. Hal ini merupakan tonggak sejarah bukan saja bagi pemerintah daerah, tetapi juga bagi pemerintah Indonesia. Dengan adanya neraca tersebut, maka laporan pertanggungjawaban keuangan daerah akan menjadi lebih transparan dan akuntabel kepada publik .