ALTERNATIF PENDAPATAN DAERAH MELALUI TRANSAKSI DERIVATIF

Posted: May 29, 2008 in Manajemen Keuangan

Dilihat kondisi pembangunan infrastruktur daerah khususnya di Sumatera Barat dapat digambarkan bahwa pembangunan infrastruktur berjalan ditempat, dalam arti tidak ada kemajuan yang dicapai secara siqnifikan. Anggaran yang disediakan untuk pembangunan infrastruktur baru sangat kecil (minim), demikian pula anggaran untuk pemeliharaan infrastruktur yang sudah ada. Kendala dari semua ini adalah keterbatasan dana. Oleh karena itu Pemerintah Daerah perlu untuk mengundang para pihak yang dianggap potensial untuk digandeng pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dengan jalan memperbaiki berbagai infrastruktur baik untuk jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

Dengan telah dikeluarkannya peraturan oleh Pemerintah Pusat tentang penerbitkan obligasi daerah, antara lain UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dan PP No. 54 tahun 2005 tentang pinjaman daerah serta Peraturan Menkeu No. 147/PMK.07/2006 tentang tata cara penerbitan, pertanggung jawaban dan publikasi informasi obligasi daerah, maka Pemerintah Daerah berpeluang untuk mendapatkan sumber pembiayaan yang baru.

Disamping untuk mencari sumber pembiayaan yang baru melalui penerbitan obligasi daerah, Pemerintah Daerah juga perlu  meningkatkan pendapatan daerahnya. Selama ini sebagian besar pendapatan daerah Propinsi Sumatera Barat masih bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (baik dari pajak, industri, pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan & lain-lain). Alangkah lebih baiknya jika Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat mencari alternatif sumber pendapatan lainnya.

Dalam hal ini, saya mencoba memberikan satu alternatif sumber pendapatan daerah yaitu dengan cara berinvestasi melalu transaksi Derivatif (walaupun sebenarnya banyak pilihan investasi). Pada tulisan ini saya tidak akan membahas secara menyeluruh apa itu transaksi Derivatif, karena akan saya bahas pada tulisan berikutnya khusus pembahasan transaksi Derivatif.

Sebagai pengantar, transaksi Derivatif dapat dengan mudah kita pahami, hal ini juga merupakan perkembangan dari transaksi kita sehari-hari. Derivatif merupakan transaksi yang didasari oleh suatu kontrak atau perjanjian pembayaran yang nilainya merupakan suatu turunan (underlying) dari nilai instrumen yang mendasari seperti suku bunga, nilai tukar, komoditi, ekuiti dan indeks baik yang diikuti dengan pergerarakan atau tanpa pergerakan dana atau instrumen. Transaksi Derivatif dapat dilakukan di Pasar Modal (dalam bentuk opsi saham, right, waran, dll), Pasar Uang (dalam bentuk forward, swap, opsi) dan Pasar Komoditi (emas, minyak & lain-lain).

Contoh derivatif

Turunan

Jenis Kontrak

Bursa perdagangan berjangka

Bursa perdagangan opsi

Transaksi swap diluar bursa

Transaksi kontrak serah(forward)diluar bursa

Transaksi opsi diluar bursa

Indeks Ekuitas

*Indeks berjangka DJIA
*Indeks berjangka NASDAQ

*Opsi pada bursa berjangka Indeks DJIA
*Opsi pada bursa berjangka Indeks NASDAQ

Swap ekuitas

Back-to-back

n/a

Pasar uang

*Eurodolar[5] berjangka
*Euribor[6] berjangka

*Opsi berjangka Eurodollar
*Opsi berjangka Euribor

Swap suku bunga

Kontrak serah kurs

*Suku bunga cap dan floor [7]
*Opsi swap (Swaption)[8]
*Swap basis)

Obligasi

Obligasi berjangka

Opsi berjangka obligasi

n/a

Perjanjian pembelian kembali

Opsi obligasi

Saham

perdagangan berjangka saham

Opsi saham

Swap ekuitas

Perjanjian pembelian kembali

*Opsi saham
*Waran
*Waran turbo

Bursa valuta asing

Perdagangan valuta asing berjangka

OpsiPerdagangan valuta asing berjangka

Swap mata uang

Kontrak serah valuta asing

Opsi valuta asing

Kredit

n/a

n/a

Swap kredit

n/a

Opsi kredit

Sumber : http://id.wikipedia.org/

Untuk lebih memahami apa itu sebenarnya transaksi Derivatif, berikut sedikit penjabaran dari Transaksi Derivatif Forward/Futures, Swap & Opsi.

1.Forward/Futures.

Merupakan suatu transaksi kontrak antara si pembeli (taker) dengan si penjual (writer) dimasa yang akan datang dimana pada saat jatuh tempo akan ada serah terima suatu barang dengan jumlah dan harga yang telah disepakati sebelumnya.

Untuk memahami dengan mudah maka kita kembali kepada kehidupan sehari-hari kita. Misalkan seorang petani bernam Suryo memperkirakan bahwa 3 bulan yang akan datang hasil panen padinya bisa mencapai 3 ton. Sedangkan harga padi sekarang perton sebesar Rp. 850.000,-. Sedangkan Suryo memperkirakan bahwa 3 bulan mendatang harga setiap ton sebesar RP. 1.000.000,-. Maka dengan asumsi seperti itu, Suryo melakukan transaksi Forward/Futures dengan koperasi. Jadi dengan perkiraan itu Suryo telah melakukan kontrak sebesar (3 ton x Rp. 1.000.000,- = Rp. 3.000.000,-). Pada saat jatuh tempo ternyata harga padi turun perton adalah Rp. 900.000,-, jadi Suryo telah mendapatkan laba perton sebesar selisihnya (Rp. 1.000.000 – Rp. 900.000 = Rp. 100.000/ton),  tetapi sebaliknya apabila harga padi naik perton menjadi Rp. 1.100.000,-, maka suryo mengalami kerugian sebesar selisihnya (Rp. 1.000.000 – Rp. 1.100.000 = Rp. 100.00/ton.

2.Swap

Merupakan kontrak untuk menyerahkan dan menerima sesuatu barang dengan nilai dan jumlah yang telah ditentukan sekarang. Untuk memahami dengan mudah apa itu transaksi derivatif Swap, maka berikut contoh dalam kehidupan sehari-hari : PT. A akan melakukan impor kedelai, sedangkan PT. B akan melakukan eksport kecap. PT. A untuk melakukan impor kedelai perlu memiliki dolar, sedangkan PT. B melakukan ekspor kecap mendapatkan dolar. Jadi dengan adanya kebutuhan ini, maka dibuatlah suatu kontrak transaksi derivatif dalam bentuk swap, yaitu PT. A yang memiliki Rupiah akan membeli Dolar milik PT. B dimana PT. B memerlukan Rupiah, maka terjadi kesepakatan harga USD 1 = Rp. 9.300. Jadi dengan adanya transaksi derivatif swap ini, maka PT. A dan PT. B tidak akan kuatir dengan terjadinya fluktuasi nilai mata uang rupiah maupun dolar. Karena pada saat jatuh tempo kedua perusahaan tersebut akan membayar Rupiah dan Dolar dengan harga yang telah disepakati yaitu USD 1 = Rp. 9.300 walaupun pada saat itu USD 1 = Rp. 9.400.

3.Opsi

Option merupakan salah satu bentuk surat berharga derivatif atau turunan. Option atau opsi merupakan sebuah kontrak antara dua pihak dimana pihak yang membeli kontrak (disebut Taker) mempunyai hak, namun bukan kewajiban, untuk membeli atau menjual sejumlah tertentu instrumen yang menjadi dasar dari kontrak tersebut, misalnya saham. Dengan demikian maka opsi tersebut disebut opsi saham (stock option). Untuk mendapatkan hak tersebut, maka pihak Taker membayar sejumlah premi kepada si penjual kontrak (disebut Writer). Ada 2 (dua) bentuk option yang dikenal, yaitu Call Option dan Put Option.

Call Option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada Taker untuk membeli sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang menjadi dasar kontrak tersebut. Sebaliknya, Put Option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada Taker untuk menjual sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang menjadi dasar kontrak tersebut.

Untuk memahami dengan mudah apa itu transaksi derivatif opti, maka berikut contoh dalam kehidupan sehari-hari : misalkan Adi berencana untuk membeli sebuah mobil merk Honda Jazz. Honda Jazz tersebut akan dibeli 2 bulan yang akan datang, dimana harganya diperkirakan sebesar Rp. 145 juta. Untuk itu Adi melakukan transaksi derivatif opsi. Adi harus menyerahkan uang premi sebesar Rp. 5 juta. Pada saat jatuh tempo ternyata harga mobil itu menjadi sebesar Rp. 150 juta. Maka adi mempunyai tiga pilihan :

a.Menggunakan haknya untuk membeli mobil tersebut dimana ia akan membeli mobil seharga Rp. 150 juta.

b.Membatalkan kontrak untuk pembelian mobil tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar premi yang telah dibayarkan yaitu Rp. 5 juta.

c.Membatalkan dan membeli ketempat dealer lain yang harganya dibawah Rp. 150 juta.

Setelah kita memahami sedikit apa itu transaksi Derivatif, maka dalam rangka meningkatkan pendapatan, Pemerintah Daerah harus berani untuk berinvestasi melalui transaksi derivatif. Dengan adanya tambahan pendapatan ini, maka diharapkan akan terjadi peningkatan pembangunan infrastruktur.

Untuk melalukan hal ini memang agak berat, tetapi dengan pemahaman yang lebih kuat dan melakukan serta mengundang pihak-pihak yang berkompeten, mungkin alternatif pendapatan melalui transaksi derivatif ini bagi Pemerintah Daerah khususnya Sumatera Barat akan dapat dilakukan. Hal ini juga berkenaan dengan adanya perizinan tentang penerbitan obligasi daerah. Jadi kenapa berinvestasi tidak kita lakukan juga.

Langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah daerah yaitu pertama membuat suatu kebijakan dan peraturan, kedua membuat anggaran untuk melakukan transaksi derivatif ini, ketiga pemerintah daerah membentuk suatu tim analisis, keempat memberikan pelatihan baik secara internal maupun secara eksternal kepada tim analisis, kelima mengundang para pelaku pasar modal untuk memberikan arahan dalam berinvestasi. Saya yakin walalupun transaksi ini mempunyai suatu risiko, tetapi apabila dikelola dengan baik maka akan dapat diperoleh pendapatan yang tinggi.

Oleh karena itu alangkah lebih baiknya Sumatera Barat  menjadi pembuka untuk mencari sumber pendapatan yang baru sebelum didahulukan oleh daerah lainnya melalui investasi pada transaksi derivatif. Kapan lagi pemerintah daerah berinvestasi dalam bentuk transaksi derivatif. AYO MAJU SUMATERA BARAT KU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s