LIKUIDITAS (Perbankan)

Posted: July 24, 2008 in Perbankan

Likuiditas adalah kemudahan atau kemampuan untuk mengubah non liquid assets menjadi liquid assets, biasanya dalam bentuk tunai (cash) dengan tanpa atau sedikit sekali berkurangnya nilai assets tersebut. Kuat atau lemahnya kemampuan likuiditas aset tergantung kepada dua faktor utama yaitu kandungan daya cair aset itu sendiri (self contain liquidity) dan daya jual aset tersebut (markeability). Daya cair aset (self liquiditing) ditentukan oleh syarat-syarat penjualan aset tersebut, baik jangka waktu maupun cara pembayarannya. Sedangkan marketability dari aset bukan saja terletak pada kemampuan pengalihan aset tersebut kepada pihak lain secara final atau permanen, tetapi juga terletak pada keberhasilan penawaran kepada pihak lain untuk ikut berpartisipasi mendanai aset tersebut. Faktor yang disebut pertama berkaitan dengan salah satu teori likuiditas perbankan yang dikatakan sebagai commercia loan theory dan yang disebut terakhir banyak dibahas dalam apa yang dikatakan sebagai shiftability theory.

Sebagai Badan Usaha (business entity), tujuan bank adalah memaksimumkankesejahteraan para stakeholders melalui peningkatan nilai investasi para pemegang saham pada bank yang bersangkutan. Karena aktiva bank yang ada dalam bentuk alat-alat likuid itu pada umumnya adalah nonearning assets, maka dana yang ditanam pada liquid assets ini harus seminimal mungkin tanpa menimbulkan resiko yang terlalu tinggi. Teknik dan faktor yang digunakan unhtk mencapai tujuan itu dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu:

(a) item-item uang tunai yang masih dalam proses inkaso,

(b) saldo (nonreserve) pada bank koresponden, dan

(c) primary reserve.

Bank harus berusaha agar proses inkaso dapat dilakukan secepat mungkin, antara lain dengan melakukan kerja lembur, penggunaan Electronic Fund Transfer, memilih kurir yang cepat, dan lain-lain. Analisa yang barus dilakukan adalah memastikan bahwa manfaat dari perubaban item non cash menjadi cash harus lebih besar dari pada biaya inkaso itu sendiri.

Bank koresponden biasanya mensyaratkan saldo minimum yang harus dipelibarasebagai kompensasi atas servis yang diberikan, seperti investment advice, holding securities (safe keeping), pengaturan pembelian dan penjualan surat surat berharga, menawarkan loan participation, jasa transfer, inkaso dan lainlain. Saldo itu harus disediakan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat yang dapat diperoleh.

Kewajiban reserve harus diperlakukan sebagai kebutuhan wajar dalam bisnis perbankan. Oleh karena itu, bank harus berusaha agar biaya penyediaan reserve tersebut harus lebih kecil daripada manfaat bisnis yang diperoleh.

Pengelola Bank selalu berusaha untuk memaksimalkan keuntungan mereka (Return on Total Assets) dengan cara menginvestasikan sebanyak mungkin dana yang tersedia. Namun manajemen juga didesak oleh kebutuhan untuk memiliki likuiditas yang cukup guna mengatasi setiap masalah mismatch yang tejadi antara aset dan liabilitas. Salah satu kendala operasional yang dihadapi oleh Perbankan Islam adalah kesulitan mereka mengendalikan likuiditasnya secara efisien. Hal itu terlihat pada beberapa gejala yang antara lain:

Tidak tersedianya kesempatan investasi segera atas dana-dana simpanan yang diterimanya. Dana-dana tersebut terakumulasi dan menganggur untuk beberapa hari sehingga mengurangi rata-rata pendapatan mereka;

Kesulitan mencairkan dana investasi yang sedang berjalan, pada saat ada penarikan dana dalam situasi kritis. Akibatnya Bank-Bank Syariah menahan alat likuid-nya dalam jumlah yang lebih besar dari pada rata-rata perbankan konvensional. Sekali lagi kondisi ini pun menyebabkan berkurangnya rata-rata pendapatan bank.

Dengan kinerja rata-rata seperti itu, maka deposan yang hanya mencari keuntungan, lebih banyak cenderung memindahkan dananya ke bank lain, sementara nasabah yang loyal terkesan babwa mengikuti prinsip syariah berarti menambah beban.

Pada umumnya Bank Syariah mengalami dua macam kendala bila dibandingkan dengan bank konvensional yaitu:

a. Kurangnya akses untuk memperoleb dana likuiditas dari Bank Sentral (kecuali hanya di beberapa negara Islam saja); dan

b. Kurangnya akses ke Pasar Uang (Money Market) sehingga Bank Islam hanya dapat memelihara likuiditas dalam bentuk kas.

kalau masih banyak kekurangan mohon maaf yach….

Comments
  1. wid says:

    cara ngiitung likuiditas perbankan gmn y???tp yg pake current ratio….thxthx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s