PEREKONOMIAN ISLAM DALAM SRATEGI PENGEMBANGAN PASAR UANG SYARIAH

Posted: July 24, 2008 in Perbankan

Konsep Perbankan Syariah adalah relatif baru bagi masyarakat Indonesia, termasuk bagi masyarakat muslim itu sendiri. Walaupun pemikiran konsep dasar perbankansyariah itu telah berjalan lama, dalam kenyataannya praktek bank syariah itubaru mulai pada tahun 1992. Berdasarkan kenyataan bahwa praktek perbankansyariah itu baru pada tahap awal (an infant stage), adalah wajar bila sistem. Perbankan syariah itu masih kurang dimengerti oleh masyarakat, sehingga sebagian dari mereka memandang, bahkan sebagian lagi telah ikut menggunakan jasa Bank Syariah, dengan harap-harap cemas dan keraguan sekaligus. Oleh karena itu sebelum kita sampai pada inti pokok bahasan, terlebih dahulu perlu diuraikan secara singkat beberapa aspek yang menyangkut prinsip-prinsip syariah yang berkaitan dengan perbankan. Bila masyarakat kita ditanya tentang apakah bank syariah itu, maka kebanyakan mereka hanya menyatakan bahwa bank syariah itu adalah bank tanpa bunga. Walaupun pernyataan ihu tidak salah, namun sebenamya bank syariah bukan sekedar itu. Lagi pula produk-produk bank syariah bukan merupakan produk yang aneh (exotic product), dan bukan hanya diperuntukkan atau hanya dapat diterima oleh masyarakat muslim saja.

Dalam pandangan syariah, uang itu bukan merupakan suatu komoditi melainkan hanya sebagai alat untuk mencapai pertambahan nilai ekonomis (economic added value). Tanpa pertambahan nilai ekonomis itu, uang tidak dapat menciptakan kesejahteraan. Hal ini bertentangan dengan perbankan berbasis bunga dimana uang mengembang-biakkan uang, tidak perduli apakah dipakai dalam kegiatan produktif atau tidak. Waktu adalah faktor utamanya. Sedangkan dalam pandangan syariah, uang hanya akan berkembang bila ditanamkan ke dalam kegiatan ekonomi riil (tangible economic activities). Dengan demikian hubungan antara bank syariah dengan nasabahnya adalah lebih sebagai partner ketimbang sebagai lender atau borrower. Bank syariah dapat bertindak sebagai pembeli, penjual, atau pihak yang menyewakan (lessor). Hal itu bisa dilakukan secara langsung, dimana bank mempunyai expertise untuk bertindak sebagai perusahaan dagang (trading house), atau secara tidak langsnng dengan cara bertindak sebagai agen bagi nasabahnya. Untuk menghasilkan kenntungan, uang harus terkait erat dengan kegiatan ekonomi dasar (Primary economic activity), baik secara langsung bertindak sebagai trading house melakukan transaksi seperti perdagangan, kegiatan industri atau sewa-menyewa dan lain-lain, atau secara tidak langsung bertindak sebagai investment company melakukan penyertaan modal guna melakukan salah satu dari atau seluruhh kegiatan usaha tersebut.

Berdasarkan  prinsip tersebut Bank Syariah dapat menarik dana dalam bentuk :

–   Titipan (wadiah), yaitu simpanan yang dijamin keamanan dan pengembaliannya (guaranteed deposit), tetapi tanpa memperoleh imbalan ataukeuntungan;

–   Partisipasi modal berbagi hasil dan berbagi resiko (non guaranteed deposit) untuk investasi umnm (general investment account / mudharabah mutlaqah) dimana bank akan membayar bagian keuntungan secara proporsional dari portfolio yang didanai dengan modal tersebut;

–   Investasi khusus (Special investment / mudharabah muqayyadah) dimana bank bertindak sebagai manajer investasi nntuk memperoleh fee. Jadi bank tidak ikut berinvestasi sedangkan investor sepenuhnya mengambil resiko atas investasi tersebut.

Dengan demikian, snmber dana Bank Syariah terdiri dari :

(1) Modal (core capital),

(2) Kuasi Ekuitas (mudharabah accounts), dan

(3) Titipan (Wadiah / non remunerated deposits).

Dari gambaran singkat tersebut jelas bahwa ruang lingkup usaha perbankan syariah adalah bersifat universal banking. Ia meliputi commercial banking dan investment banking. Namun demikian sistem perbankan syariah secara prinsip sangat berbeda dengan sistem perbankan konvensional. Perbedaan tersebut memberikan konsekuensi perlunya pengaturan yang berbeda dengan pengaturan perbankan konvensional, antara lain misalnya peraturan tentang pola pengendalian likuiditas, perhitungan kecukupan modal dan sebagainya.

Perekonomian Islam ialah ekonomi menurut undang-undang Islam. Adanya dua paradigma untuk memahami Perekonomian Islam, dengan satunya menganggap rangka politik Islam (iaitu Khilafah), dan yang lain itu menganggap rangka politik bukan Islam yang melahirkan suatu paradigma yang bertujuan untuk menyepadukan sesetengah rukun Islam yang terkenal ke dalam sebuah rangka ekonomi sekular.

Paradigma pertama bertujuan untuk mentakrifkan semula masalah ekonomi sebagai suatu masalah pengagihan sumber untuk mencapai:

1.        keperluan-keperluan asas dan mewah para orang perseorangan di dalam masyarakat;

2.        membina pasaran etika yang mempunyai persaingan kerjasama;

3.        memberikan ganjaran kepada penyerta-penyerta kerana terdedah kepada risiko dan/atau liabiliti;

4.        membahagikan harta-harta secara adil antara kegunaan awam dan kegunaan peribadi; dan

5.        negara memainkan peranan yang jelas terhadap pengawasan, percukaian, pengurusan harta awam dan memastikan peredaran kekayaan.

Gerakan-gerakan Islam yang menyeru agar politik dibaharui umumnya akan mencadangkan paradigma ini untuk menjelaskan bagaimana mereka akan memperkenalkan pembaharuan ekonomi. Bagaimanapun, paradigma kedua hanya mencadangkan dua hukum utama, iaitu:

1.        faedah tidak boleh dikenakan pada pinjaman;

2.        pelaburan harus menepati tanggungjawab sosial.

Perbedaan utama dari segi kewangan ialah peraturan tiada faedah kerana paradigma pelaburan Islam yang menepati tanggungjawab sosial tidak amat berbeza dengan apa yang diamalkan oleh agama-agama yang lain. Dalam percubaannya untuk melarang faedah, ahli-ahli ekonomi Islam berharap untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang lebih bersifat Islam. Bagaimanapun, gerakan-gerakan liberal dalam agama Islam mungkin akan menafikan keperluan untuk perkara ini kerana mereka umumnya melihat Islam sebagai secocok dengan institusi-institusi dan undang-undang sekular moden.

Ciri-ciri Ekonomi Islam

·         Memelihara fitrah manusia .

·         Memelihara norma-norma akhlak .

·         Memenuhi keperluan-keperluan masyarakat  .

·         Kegiatan-kegiatan ekonomi adalah sebahagian daripada ajaran agama Islam.

·         Kegiatan ekonomi Islam mempunyai cita-cita luhur, iaitu bertujuan berusaha untuk mencari keuntungan individu, di samping melahirkan kebahagiaan bersama bagi masyarakat.

·         Aktiviti-aktiviti ekonomi islam sentiasa diawasi oleh hukum-hukum islam dan perlaksanaannya dikawal pula oleh pihak pemerintah

·         Ekonomi islam menseimbangkan antara kepentingan individu dan masyarakat

yupp……moga bermanfaat bagi kita semua…….wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s