Pengelolaan Risiko Treasury

Posted: December 4, 2009 in Perbankan

BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia perbankan yang disertai dengan meningkatnya kompleksitas aktivitas Perbankan semakin mempertegas pentingnya tata kelola perusahaan yang sehat (good corporate governance) dan manajemen risiko yang dapat diandalkan. Kedua hal tersebut merupakan faktor penting yang menjadi perhatian para investor dalam penilaian pilihan target investasinya. Penerapan manajemen risiko pada Perbankan pada dasarnya sudah dilakukan sejak awal pendiriannya, meskipun dengan cara yang masih konvensional dan berkembang sesuai dengan perkembangan kondisi internal dan eksternal.

Pengembangan manajemen risiko pada Perbankan selalu berpedoman pada peraturan Bank Indonesia tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum serta dokumen-dokumen dari Basel Committee on Banking Supervision, terutama konsep Basel Accord II. Pengelolaan risiko pada Perbankan mencakup keseluruhan lingkup aktivitas usaha di Perbankan, berdasarkan kebutuhan akan keseimbangan antara fungsi operasional bisnis dengan pengelolaan risikonya. Dengan kebijakan dan manajemen risiko yang berfungsi baik, maka manajemen risiko akan menjadi strategic partner bagi unit bisnis dalam mendapatkan hasil optimal dari operasi perusahaan.

Dalam rangka pengembangan manajemen risiko yang sesuai dengan standar perbankan nasional, Perbankan secara kontinu dan berkelanjutan, terus mengembangkan dan meningkatkan kerangka sistem pengelolaan risiko dan struktur pengendalian internal yang terpadu dan komprehensif, sehingga dapat memberikan informasi adanya potensi risiko secara lebih dini dan selanjutnya mengambil langkah-langkah yang memadai untuk meminimalkan dampak risiko. Kerangka manajemen risiko ini dituangkan dalam kebijakan, prosedur, limit-limit transaksi, kewenangan dan ketentuan lain serta berbagai perangkat manajemen risiko, yang berlaku di seluruh lingkup aktivitas usaha. Untuk memastikan bahwa kebijakan dan prosedur tersebut sesuai dengan perkembangan bisnis yang ada, maka evaluasi selalu dilakukan secara berkala sesuai dengan perubahan parameter risikonya.

Adapun penerapan manajemen risiko pada Perbankan secara garis besar adalah sebagai berikut :

  1. Risiko Kredit

Manajemen risiko atas kredit yang dijalankan oleh Bank antara lain dengan cara sebagai berikut :

–          Penetapan kebijakan dan prosedur manajemen risiko kredit.

–          Penentuan limit-limit risiko kredit yang bisa ditolerir oleh Bank.

–          Identifikasi resiko kredit yang melekat pada produk dan aktivitas bank.

–          Pengukuran risiko kredit sehingga diperoleh kebutuhan modal untuk menyerap risiko yang ada.

–          Dan Pemantauan dan pengendalian risiko kredit.

  1. Risiko tingkat suku bunga

Risiko tingkat suku bunga dapat timbul dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti perkreditan, treasury dan investasi, pembiayaan perdagangan yang tercatat dalam banking book maupun trading book. Risiko yang timbul dikaitkan denga ketidakmampuan debitur dalam membayar kembali pokok maupun bunga pinjamannya yang pada akhirnya dapat menurunkan pendapatan bank dan mempengaruhi tingkat kesehatan bank. Dalam rangka meminimalkan risiko tingkat suku bunga, bank melakukan upaya-upaya antara lain :

–          Meningkatkan fungsi dan peran aset & liabilities commitee (alco) dalam rangka identifikasi dan penetapan tingkat suku bunga kredit dan dana pihak ketiga dengan mengantisipasi fluktuasi suku bunga pasar.

–          Penerapan kebijakan asset & liabilities management (alma) untuk pihak yang mempunyai hubungan istimewa dalam penerapan manajemen risiko bank dan menjadi pedoman bagi unit kerja treasury dalam melakukan transaksi di pasar uang dan pasar modal seperti :

  • melakukan identifikasi risiko suku bunga yang berasal dari transaksi dan portofolio bank pada efek-efek.
  • Penetapan sistem pengukuran risiko suku bunga dengan menggunakan gap analysis atauy duration analysis, dan
  • Strategi penanaman dana dan strategi pengumpulan dana.
  1. Risiko Pasar

Risiko pasar melekat pada aktivitas fungsional bank seperti kegiatan Treasury dan investasi dalam bentuk efek-efek dan pasar uang maupun penyertaan pada lembaga keuangan lainnya, penyediaan dana, kegiatan pendanaan dan penerbitan surat utang, serta kegiatan pembiayaan perdagangan. Untuk itu, bank harus dan selalu melakukan identifikasi dan pemantauan dari waktu ke waktu.

  1. Risiko Likuiditas

Langkah yang diambil oleh bank sehubungan dengan mismatch aset dan kewajiban moneter yang jatuh tempo antara 1 (satu) sampai 3 (tiga) bulan, adalah meningkatkan pelayanan kepada nasabah simpanan serta menawarkan produk dan bunga yang menarik kepada nasabah. Disamping itu bank juga harus mengintensifkan usaha penagihan kepada debitur bermasalah dan menempatkan kelebihan dana pada efek-efek yang memiliki pasar sehingga dapat dicairkan setiap saat apabila bank membutuhkan dana.

BAB II

RISIKO TREASURY

  1. I. Manajemen Risiko

Definisi Manajemen Resiko adalah pengelolaan berbagai resiko yang berkaitan dengan usaha perusahaan. Pengelolaan tersebut dilaksanakan melalui langkah pencegahan atas kemungkinan terjadinya resiko kerugian sewaktu-waktu dapat timbul. Manajemen resiko merupakan piranti untuk menilai kemampuan manajemen yang mengandung resiko tinggi (risk bearing activities) seperti pengelolaan kredit, transaksi surat-surat berharga, valuta asing dan derivatif serta kegiatan di bidang treasury dan pengelolaan likuiditas. Kegunaan manajemen resiko bagi perusahaan adalah dapat memprediksi secara dini akan adanya resiko yang akan dihadapi pada setiap kegiatan yang dilakukan sehingga perusahaan dapat melakukan antisipasi sebelumnya.

Dengan kata lain Manajemen risiko adalah suatu proses mengidentifikasi, mengukur risiko, serta membentuk strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia. Strategi yang dapat digunakan antara lain mentransfer risiko pada pihak lain, mengindari risiko, mengurangi efek buruk dari risiko dan menerima sebagian maupun seluruh konsekuensi dari risiko tertentu.

Langkah-langkah Manajemen Risiko diperlihatkan pada bagan berikut ini :

  1. II. Treasury

Tugas Treasury baik diperusahaan perbankan ataupun di perusahaan corporate tidaklah banyak perbedaan walaupun Treasury perbankan sering diartikan memiliki kemampuan memperoleh spread margin melalui transaksi beresiko sementara treasury pada corporate relatif bertindak untuk memenuhi kebutuhan pendanaan dan selalu menghindari resiko.

Tugas Treasury Management khususnya dalam dunia perbankkan selalu dilengkapi dengan kelompok Dealer sebagai ujung tombaknya dalam suatu ruangan yang biasa disebut Dealing Room, ruang mana dilengkapi dengan segala instrument yang diperlukan untuk memperoleh informasi keuangan seperti monitor secreen Reuter atau Telerate dari seluruh penjuru dunia.

Dengan memperoleh informasi yang cepat Treasury dengan cepat melakukan antisipasinya untuk melakukan pemagaran risiko yang mungkin terjadi melalui berbagai macam teknik hedging yang dimilikinya. Selain itu tugas Treasury juga menjaga agar biaya dana yang terhimpun berada pada titik terendah sementara harga jual dana mampu memperoleh harga tertinggi sehingga spread margin akan dicapai pada titik maksimal.

Oleh karena fungsinya sedemikian rupa maka seorang Treasury Bank/Corporate akan selalu dipilih dari pejabat-pejabat yang memiliki kemampuan tinggi dan sensitivitas yang tinggi pula. Treasury akan selalu menjadi sekretaris ALCO atau Asset Liability Committee suatu Bank yakni suatu komite yang memiliki fungsi yang sangat strategis sifatnya terutama dalam menghadapi situasi yang berubah agar taktik dan strategi yang diambil perusahaan selalu berada pada alur yang benar.

Seorang Treasury dianggap orang yang paling tahu mengenai pergerakan Pasar Uang/Modal ataupun Pasar Valuta baik didalam negeri maupun pasar dunia, disamping kemampuannya menyeimbangkan struktural pendanaan Bank/Perusahaan. Pasar Global diartikan pasar dimana kekuatan Demand dan Supply sama kuatnya dalam sepanjang waktu, ini artinya bahkan seorang Treasury harus mampu berantisipasi ke pasar (baik dalam maupun luar negeri) selama 24 jam penuh agar Bank/Perusahaannya selalu aman terhadap perubahan kondisi yang terjadi.

  1. III. Aktifitas Treasury

Treasury merupakan nama suatu unit kerja di dalam suatu organisasi yang memiliki tugas dan tanggung jawab utama dalam pengelolaan dana organisasi tersebut. Oleh karena itu setiap tugas dan tanggung jawab serta aktifitas Treasury selalu diiringi dengan risiko-risiko.

  1. IV. Risiko Treasury

Risiko Treasury merupakan suatu risiko kerugian pada aktivitas treasury bank, dan oleh karenanya bergantung pada fungsi manajemen risiko dari treasury itu sendiri. Tugas treasury bank adalah bagaimana treasury bank tersebut dapat mengelola risiko suku bunga di banking book, mengelola risiko likuiditas dan pengelolaan capital management.

Adapun risiko yang akan dihadapi dalam aktivitas Treasury adalah sebagai beriut :

  1. Risiko suku bunga yaitu yang muncul dari adanya perubahan dalam tingkat bunga yang berlaku dipasar. Risiko tingkat bungan ini merupakan risiko utama yang tidat dapat dihindarkan, sebab tingkat bunga ini mempunyai pengaruh yang sama terhadap seluruh surat berharga yang ada.
  2. Risiko pasar yaitu risiko yang muncul yang diakibatkan adanya kondisi perekonomian negera yang berubah-rubah dipengaruhi oleh resesi dan kondisi perekonomian lain.
  3. Risiko inflasi yaitu risiko yang muncul akibat kenaikan harga-harga secara umum
  4. Risiko Operasional yaitu risiko  yang muncul yang diakibatkan Dapat terjadi karena adanya kesalahan, penyelewengan atau ketidak patuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
  5. Risiko kredit yaitu risiko yang muncul yang diakibatkan Dapat terjadi karena pihak lawan (Counterparty) gagal memenuhi kewajibannya kepada bank sehingga mempengaruhi rentabilitas bank.
  6. Risiko likuiditas yaitu risiko yang muncul yang diakibatkan Dapat terjadi karena adanya mismatch atau shortage funding sehingga bank tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran likuiditas pada waktu yang ditetapkan.
  7. Risiko nilai tukar mata uang yaitu risiko yang timbul karena adanya fluktuasi atau perubahan nilai tukar mata uang suatu negara dengan negara lain.
  8. Risiko negara (country risk) yaitu risiko yang timbul karena adanya kebijakan-kebijakan yang timbul dari pemerintah baik dari segi politik maupun ekonomi serta adanya perubahan-perubahan dalam deregulasi yang berlaku selama ini.

V. Aset dan Liability Managament (ALMA)

Dalam pengelolaan risiko treasury sebagaimana tersebut diatas salah satu cara yang dilakukan adalah dengan pengelolaan aset dan liability (ALMA). Treasury bank terlebih dahulu harus melakukan pengelolaan aset dan liability manajemen (ALMA). Tujuan utama pengelolaan ALMA ini adalah bagaimana bank (treasury) dapat mengelola risiko dalam neraca bank dan memastikan bahwa risiko terutama risiko bunga pada bisnis bank tidak akan menggangu produktifitas pendapatan bank sepanjang periode.

Menurut Raflus Rax (Alco:1996:14&24) mengartikan bahwa Asset & Liability Management atau Ilmu Penataan Asset dan Liabilities merupakan ilmu  tentang fungsi-fungsi kritis dengan tujuan tercapainya struktur neraca dengan tingkat profitabilitas yang optimal sementara risiko selalu dapat ditata. (“ALMA is a critical Bank function to optimize the balance sheet structure for maximum profitability while managing risk” ).

Disamping itu Asset Liability Management dapat diartikan sebagai suatu proses perencanaan dan pengawasan operasi perbankan yang terkoordinasi dan secara konsekuen dijalankan dengan selalu memperhatikan perkembangan factor-faktor yang mempengaruhi operasi perbankan, baik itu berasal dari luar ataupun factor struktrural yang berasal dari dalam.

Sedangkan menurut Mudrajad Kuncoro dan Suhardjono (Manajemen Perbankan:Edisi Pertama:275 & 276) mengartikan  Asset & Liability Management atau lebih dikenal dengan ALMA yaitu usaha untuk mengoptimumkan struktur neraca bank sedemikian rupa agar diperoleh laba yang maksimal dan sekaligus membatasi risiko menjadi sekecil mungkin, khususnya risiko-risiko di luar kredit.

Ada beberapa isu yang membuat bank harus menyesuaikan kondisi dan struktur neracanya. Beberapa isu tersebut timbul pada bank yang beroperasi pada pasar internasional, yang memiliki struktur modal didominasi oleh mata uang domestik, namun pendapatan, aset dan kewajiban dalam mata uang lain (valuta asing). Hal ini nantinya akan dapat menimbulkan risiko nilai tukar pada pendapatan bank, yakni :

–          Profit saat ini dan masa depan dari cabang ke luar negeri akan berfluktuasi ketika dikonversikan ke mata uang domestik , karena adanya perubahan dalam nilai tukar.

–          Modal (dalam mata uang domestik) yang dialokasikan ke cabang luar negeri akan memperkuat struktru aset dalam mata uang asing. Ini akan berdampak pada volatilitas rasio modal terhadap aset ketika nilai domestik (Rupiah) berubah.

Berdasarkan isu-isu yang berkembang sebagaimana tersebut diatas, maka Treasury bank harus mampu untuk melakukan dan memahami hal-hal sebagai berikut :

–          Sebuah neraca bukanlah sebuah kumpulan aset dan kewajiban yang stabil (karena pinjaman dan simpanan akan selalu berubah, ada yang baru dan lainnya jatuh tempo)

–          Penilaian ulang (repricing) atas aset dan kewajiban di neraca sebuah bank umum tidak semuanya bersifat tetap (waktu dan harga).

–          Jarang terjadi atau tidak ada korelasi antara produk ritel dan perdagangan dalam menetapkan harga aset dan kewajiban .

–          Banyak Produk ritel yang memeliki opsi, yang hak opsinya sering tidak dipakai tanpa alasan yang jelas .

bersambung……………………….

Comments
  1. unai says:

    uhuyyy ini dia yang dicari. thank u Dhy…

  2. radi says:

    thanks boss.. artikelnya..

  3. fibria says:

    thank u ……..

  4. aichan says:

    makasih inpohnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s